Jangan katakan apa-apa lagi .
Diam dan heninglah dalam kebisuan.
Simpan semua yang kini ada.
Biarkan berlalu begitu saja.
Jika terlalu bodoh untuk diam.
Cukup pintarlah untuk berusaha.
Jika terlalu polos untuk menyadari.
Cukup bijaksanalah dalam menerima.
Biar tetap berbeda keinginan.
Cukup terima dan biarkan saja.
Selama ada yang tau sebenarnya.
Jika berdiri untuk lumpuh.
Biarlah terlelap untuk bangun.
Jika berlari untuk terjatuh.
Biarlah berbaring untuk bangkit.
Asalkan jangan menyerah jika mampu.
Sabtu, 28 Desember 2013
Sejenis Tetes Hujan.
Terasa dalam angan.
Jalan panjang dalam rintikmu.
Berdesir, irama pagi.
Beriring dentuman loteng.
Bergema, nada sunyi.
Menanti hadirnya derasmu.
Tadah tangan pengais do'a.
Meski tak tentu waktu.
Diam dalam helai dedaunan.
Tanah memanggilmu pelan.
Seketika sosokmu kelu.
Hilang bahkan lenyap begitu saja.
Akar-akar merenggut nafasmu.
Meski umurmu sepanjang masa.
Berlalu dalam desir pasir.
Hening ketika tetesmu behenti.
Jalan panjang dalam rintikmu.
Berdesir, irama pagi.
Beriring dentuman loteng.
Bergema, nada sunyi.
Menanti hadirnya derasmu.
Tadah tangan pengais do'a.
Meski tak tentu waktu.
Diam dalam helai dedaunan.
Tanah memanggilmu pelan.
Seketika sosokmu kelu.
Hilang bahkan lenyap begitu saja.
Akar-akar merenggut nafasmu.
Meski umurmu sepanjang masa.
Berlalu dalam desir pasir.
Hening ketika tetesmu behenti.
Minggu, 08 Desember 2013
Laksana Kelabu.
Bayang-bayang jalanan tak lagi ada.
Hanya pantulan lampu kendaraan.
Atau seberkas sinar datang rahasia.
Tersisa sedikit peluh bercucuran.
Belum jua berakhir untuk bergerak.
Masih tersisa waktu untuk berlaku.
Tapi tak sanggup dalam derai hujan.
Hanya sanggup dalam derai badai.
Engku ibarat perantara yang astral.
Tak pernah jelas, bahkan tak tampak.
Seruanmu menakjubkan, selalu begitu.
Hanya beberapa menit untuk diam.
Dan sebentar lagi berlalu sendu.
Harus menanti hidup lagi untuk berjumpa.
Begitulah jalan cerita detik-detikmu.
Ambigu untuk yang tak tau.
Hanya pantulan lampu kendaraan.
Atau seberkas sinar datang rahasia.
Tersisa sedikit peluh bercucuran.
Belum jua berakhir untuk bergerak.
Masih tersisa waktu untuk berlaku.
Tapi tak sanggup dalam derai hujan.
Hanya sanggup dalam derai badai.
Engku ibarat perantara yang astral.
Tak pernah jelas, bahkan tak tampak.
Seruanmu menakjubkan, selalu begitu.
Hanya beberapa menit untuk diam.
Dan sebentar lagi berlalu sendu.
Harus menanti hidup lagi untuk berjumpa.
Begitulah jalan cerita detik-detikmu.
Ambigu untuk yang tak tau.
Sabtu, 07 Desember 2013
Tentang Sebuah Drama
Musikal sederhana yang berarti.
Sebuah nyanyian yang berbekas.
Ketika itu pagi menjelang siang
Masih ingat tentang jenjang itu.
Beberapa untai kata bijak terucap.
Memang sederhana, tapi bermakna.
Apa ini terlalu dramatis?
Mungkin tidak untuk yang tau.
Apa ini terlalu rumit?
Mungkin iya bagi yang ingat.
Bukan tempat biasa saja.
Sebiasa sejarah tentang cerita itu.
Menunggu hari itu lagi, tak kan pernah.
Karena drama sederhana itu benar-benar ada.
Sebuah nyanyian yang berbekas.
Ketika itu pagi menjelang siang
Masih ingat tentang jenjang itu.
Beberapa untai kata bijak terucap.
Memang sederhana, tapi bermakna.
Apa ini terlalu dramatis?
Mungkin tidak untuk yang tau.
Apa ini terlalu rumit?
Mungkin iya bagi yang ingat.
Bukan tempat biasa saja.
Sebiasa sejarah tentang cerita itu.
Menunggu hari itu lagi, tak kan pernah.
Karena drama sederhana itu benar-benar ada.
Bukan Itu.
Ini bukan tentang dua waktu.
Ini bukan tentang menanti fajar.
Apalagi tentang menanti terik.
Dan ini sama sekali bukan.
Apa mungkin ini tentang tiga waktu.
Atau pertengahan dari semuanya.
Atau hanya seberkas bayangan kabur.
Bahkan mungkin ini buta, tidak bisa.
Apa tidak pernah jelas.
Apa selalu harus berbayang.
Ini tentang pertanyaan yang rumit.
Mungkin memang sekelumit.
Sehingga itu tidak penting.
Tak kan pernah menjadi penting.
Ini bukan tentang menanti fajar.
Apalagi tentang menanti terik.
Dan ini sama sekali bukan.
Apa mungkin ini tentang tiga waktu.
Atau pertengahan dari semuanya.
Atau hanya seberkas bayangan kabur.
Bahkan mungkin ini buta, tidak bisa.
Apa tidak pernah jelas.
Apa selalu harus berbayang.
Ini tentang pertanyaan yang rumit.
Mungkin memang sekelumit.
Sehingga itu tidak penting.
Tak kan pernah menjadi penting.
Biar Mengalir.
Tentang cerita rembulan malam itu.
Sekilas seperti ada yang mengatur.
Apa itu jalan lain yang kau tunjukkan.
Agar aku bisa sekilas merasakanmu.
Atau tentang bintang yang hilang malam itu.
Iya, aku ingat ketika kita membicarakannya.
Seperti bintang yang akan menimpa bumi.
Hanya kita yang mungkin melihat dengan hati.
Biarlah, jika memang pisau bermata dua.
Tapi tidak denganmu yang diam bertahan.
Atau aku yang berpura-pura tidak tau.
Entah, ini hanya seperti cerita tanpa akhir.
Sekilas seperti ada yang mengatur.
Apa itu jalan lain yang kau tunjukkan.
Agar aku bisa sekilas merasakanmu.
Atau tentang bintang yang hilang malam itu.
Iya, aku ingat ketika kita membicarakannya.
Seperti bintang yang akan menimpa bumi.
Hanya kita yang mungkin melihat dengan hati.
Biarlah, jika memang pisau bermata dua.
Tapi tidak denganmu yang diam bertahan.
Atau aku yang berpura-pura tidak tau.
Entah, ini hanya seperti cerita tanpa akhir.
Jumat, 06 Desember 2013
Percayalah
Langit mungkin bisu.
Tapi tidak dengan hatimu.
Kegelapan mungkin buta.
Tapi tidak dengan matamu.
Kau lebih mampu, kau lebih sanggup.
Tidak seperti saat kau menyerah.
Tidak seperti saat kau menutup mata.
Jika kau lumpuh dalam ingatanmu.
Tongkatmu akan mengingatkan.
Jika bagimu sudah sirna.
Lepaskanlah sejauh mungkin.
Jika kau lupa dalam berfikir.
Kau masih punya memori yang abadi.
Meski tak akan sesempurna yang kau mau.
Tapi lebih indah dari yang pernah terbayangkan.
Tapi tidak dengan hatimu.
Kegelapan mungkin buta.
Tapi tidak dengan matamu.
Kau lebih mampu, kau lebih sanggup.
Tidak seperti saat kau menyerah.
Tidak seperti saat kau menutup mata.
Jika kau lumpuh dalam ingatanmu.
Tongkatmu akan mengingatkan.
Jika bagimu sudah sirna.
Lepaskanlah sejauh mungkin.
Jika kau lupa dalam berfikir.
Kau masih punya memori yang abadi.
Meski tak akan sesempurna yang kau mau.
Tapi lebih indah dari yang pernah terbayangkan.
Senin, 11 November 2013
Secepat Dua Waktu
Aku terlelap ketika matamu masih terbuka.
Jika kau datang aku pasti terjaga.
Karena kau membangunkanku dengan kelembutanmu.
Karena kau ingin aku menemani gelapnya malammu.
Jika hujan datang sering kau peluk aku dengan sendumu.
Karena kau takut, jika aku tak mampu bertahan.
Seandainya mataku tak kunjung terbuka, kau menangis.
Kau takut kesendirian membuatmu lumpuh.
Dan kau tak mampu menjagaku dalam kegelapan.
Dan aku tak mampu membuatmu tak sendiri.
Apa mungkin rembulan akan menyaksikan kita berdua.
Apa mungkin bintang jadi saksi cerita kita.
Cerita cinta ketika fajar menunggu kita.
Andai kita tak bertemu di dinginnya kabut pagi.
Mungkin aku takkan beranjak pergi darimu.
Andai kita bertemu di terangnya mentari.
Mungkin waktu untuk kita tak secepat itu.
Mungkin akan lama aku berdua denganmu.
Menyusuri pekatnya sengatan yang perlahan menusukku.
Menyusuri sisi lain dunia diantara kita, diantara kau
dan aku
Dear Jiji Davis
Minggu, 10 November 2013
Hidupku Di Gelapmu
Matahari kini tlah meredup.
Kau datang tanpa kuundang.
Rembulan, ya engkau rembulan.
Tapi indahmu tak bisa kuelakkan.
Kadang kau datang bersama temanmu.
Bintang, iya engkau beribu bintang.
Bahkan kawanmu yang lain juga hadir.
Hujan, iya engkau rintik hujan.
Kau memelukku begitu erat.
Hawamu begitu pekat kulihat.
Tapi tetap saja gelap, gelap dan gelap.
Gelap di mataku yang sudah buram.
Tapi kau begitu setia, setia padaku.
Kau tak pernah berdusta, kau jujur.
Rasamu utuh untukku, selamanya.
Engkau juga tau aku selalu mengunjungimu.
Karena itu, kau selalu menungguku.
Dan kita sama-sama menunggu.
Kau datang tanpa kuundang.
Rembulan, ya engkau rembulan.
Tapi indahmu tak bisa kuelakkan.
Kadang kau datang bersama temanmu.
Bintang, iya engkau beribu bintang.
Bahkan kawanmu yang lain juga hadir.
Hujan, iya engkau rintik hujan.
Kau memelukku begitu erat.
Hawamu begitu pekat kulihat.
Tapi tetap saja gelap, gelap dan gelap.
Gelap di mataku yang sudah buram.
Tapi kau begitu setia, setia padaku.
Kau tak pernah berdusta, kau jujur.
Rasamu utuh untukku, selamanya.
Engkau juga tau aku selalu mengunjungimu.
Karena itu, kau selalu menungguku.
Dan kita sama-sama menunggu.
Misteri Mawarku
Merahmu menggoda kumbang.
Hijau tangkaimu menipu.
Jika kau patah kau layu.
Jika kau kering kau mati.
Tapi kau menebar harum.
Indahmu mengagumkan.
Kau tak hanya merah.
Tapi kau juga putih.
Kau juga suci dengan warnamu.
Tapi sayang durimu kejam.
Durimu sadis menusuk jemariku.
Tapi kau mampu membuatku tertarik.
Tertarik menelusuri sisi lainmu.
Meski sampai kini belum kutemukan
Hijau tangkaimu menipu.
Jika kau patah kau layu.
Jika kau kering kau mati.
Tapi kau menebar harum.
Indahmu mengagumkan.
Kau tak hanya merah.
Tapi kau juga putih.
Kau juga suci dengan warnamu.
Tapi sayang durimu kejam.
Durimu sadis menusuk jemariku.
Tapi kau mampu membuatku tertarik.
Tertarik menelusuri sisi lainmu.
Meski sampai kini belum kutemukan
Denganmu Iramaku
Denting piano kadang kala menenangkan.
Gesekan biola membuatku diam.
Seharusnya aku masih percaya pada gitar.
Meski senarnya menjeratku.
Nada yang kusuka sudah jarang kudengar.
Namun, nada sumbing itu kini muncul lagi.
Engkau,padahal engkau suara merdu yang sejuk.
Dan senandungmu membuatku tegar.
Seriosamu membuatku semakin sayang.
Tak hanya itu, kau punya musikalitas.
Dan musikalisasimu membuatku rindu.
Kau bukan musikus, tapi aku cinta.
Karena alunanmu yang begitu tenang.
Tapi aku harus berlajar musikologi.
Untuk apa? Hanya untuk memahamimu.
Agar musikalitas yang kau punya bisa kumiliki.
Aku bukan musikolog yang mengerti tentangmu.
Tapi kita sering berperan dalam musikal rasa.
Musikal yang kita ciptakan berirama.
Melodi yang juga kita rangkai berdua.
Dengan melodika yang kita beli petang hari.
Sehingga semua melodius kita jadi sejarah.
Sejarah yang akan muncul pada opera sederhana.
Sesederhana rasa yang kita punya.
Gesekan biola membuatku diam.
Seharusnya aku masih percaya pada gitar.
Meski senarnya menjeratku.
Nada yang kusuka sudah jarang kudengar.
Namun, nada sumbing itu kini muncul lagi.
Engkau,padahal engkau suara merdu yang sejuk.
Dan senandungmu membuatku tegar.
Seriosamu membuatku semakin sayang.
Tak hanya itu, kau punya musikalitas.
Dan musikalisasimu membuatku rindu.
Kau bukan musikus, tapi aku cinta.
Karena alunanmu yang begitu tenang.
Tapi aku harus berlajar musikologi.
Untuk apa? Hanya untuk memahamimu.
Agar musikalitas yang kau punya bisa kumiliki.
Aku bukan musikolog yang mengerti tentangmu.
Tapi kita sering berperan dalam musikal rasa.
Musikal yang kita ciptakan berirama.
Melodi yang juga kita rangkai berdua.
Dengan melodika yang kita beli petang hari.
Sehingga semua melodius kita jadi sejarah.
Sejarah yang akan muncul pada opera sederhana.
Sesederhana rasa yang kita punya.
Sabtu, 09 November 2013
Izinkan Aku
Wajahmu begitu mudah menipu mataku.
Sikapmu kadang kala membuatku mengerti.
Aku, aku yang belum mampu.
Mampu membuatmu bangga.
Aku, aku yang belum bisa.
Bisa membuatmu bahagia.
Aku hanya bisa membuatmu kecewa.
Kecewa akan apa yang terjadi saat ini.
Malam mungkin sering kujadikan tempat mengadu.
Berdiam diri, tertutup pada siapapun.
Kini tak ada yang pernah tau lagi.
Tak satupun yang kuberi tau.
Aku diam, dan aku hanya bisa membisu.
Izinkan aku walau hanya sejenak di sampingmu.
Tapi kapal tempat ku berlayar sudah tenggelam.
Samudera yang kuarungi mengamuk.
Sampan yang tersisa pun sudah lapuk.
Apalagi dayung yang kupunya sudah patah.
Izinkan aku walau hanya sedetik didekatmu.
Mungkin belum saatnya, mungkin nanti.
Izinkan aku untuk sejenak membuatmu bahagia.
Izinkan aku untuk selalu membuatmu bangga.
Sikapmu kadang kala membuatku mengerti.
Aku, aku yang belum mampu.
Mampu membuatmu bangga.
Aku, aku yang belum bisa.
Bisa membuatmu bahagia.
Aku hanya bisa membuatmu kecewa.
Kecewa akan apa yang terjadi saat ini.
Malam mungkin sering kujadikan tempat mengadu.
Berdiam diri, tertutup pada siapapun.
Kini tak ada yang pernah tau lagi.
Tak satupun yang kuberi tau.
Aku diam, dan aku hanya bisa membisu.
Izinkan aku walau hanya sejenak di sampingmu.
Tapi kapal tempat ku berlayar sudah tenggelam.
Samudera yang kuarungi mengamuk.
Sampan yang tersisa pun sudah lapuk.
Apalagi dayung yang kupunya sudah patah.
Izinkan aku walau hanya sedetik didekatmu.
Mungkin belum saatnya, mungkin nanti.
Izinkan aku untuk sejenak membuatmu bahagia.
Izinkan aku untuk selalu membuatmu bangga.
Senin, 04 November 2013
Belum Saatnya
Detik-detik bermuram.
Sayup-sayup bercerita.
Nada-nada menari.
Jiwa-jiwa terlelap.
Namun hati tak pernah tidur.
Letih takkan pernah lalu.
Maha agung memberi anugerah.
Belum hari ini, mungkin esok.
Di tepian balkon bercerita.
Menulis dengan penuh harap.
Andai saja, tapi tak mungkin lagi.
Arwah telah pergi.
Kini tak mungkin, di sana aku dinanti.
Dengan harap aku akan pulang
Tunggu aku.
Sayup-sayup bercerita.
Nada-nada menari.
Jiwa-jiwa terlelap.
Namun hati tak pernah tidur.
Letih takkan pernah lalu.
Maha agung memberi anugerah.
Belum hari ini, mungkin esok.
Di tepian balkon bercerita.
Menulis dengan penuh harap.
Andai saja, tapi tak mungkin lagi.
Arwah telah pergi.
Kini tak mungkin, di sana aku dinanti.
Dengan harap aku akan pulang
Tunggu aku.
Minggu, 03 November 2013
Senandung Untuk Cinta
Cinta, kata orang cinta.
Apa iya cinta?
Cinta itu nama.
Yang bilang cinta.
Jatuh cinta, nanti luka.
Tidak cinta, bukan rasa.
Cinta indah, memang iya.
Dia cinta, aku juga.
Sama, kita sama cinta.
Cinta apa? Rasa cinta.
Kamu cinta? Iya cinta kamu.
Aku cinta? iya cinta kamu juga.
Seberapa cinta? Tidak ternilai.
Yang penting cinta.
Apa iya cinta?
Cinta itu nama.
Yang bilang cinta.
Jatuh cinta, nanti luka.
Tidak cinta, bukan rasa.
Cinta indah, memang iya.
Dia cinta, aku juga.
Sama, kita sama cinta.
Cinta apa? Rasa cinta.
Kamu cinta? Iya cinta kamu.
Aku cinta? iya cinta kamu juga.
Seberapa cinta? Tidak ternilai.
Yang penting cinta.
Andaikan Salju
Kapan kau ke sini.
Berabad-abad pun belum.
Suci sekali parasmu.
Di sini kau jauh di puncak.
Kau dingin, aku takut.
Tapi kau indah, aku suka.
Kau juga lembut, aku rindu.
Sebentar lagi kau datang.
Bukan di sini, tapi di sebelah.
Ingin sekali manari di sekitarmu.
Ingin sekali memeluk hawamu.
Mustahil jika aku di sini.
Ya benar sekali, pergi.
Bergegas jika aku bisa.
Tunggu, apa aku bisa?
Berabad-abad pun belum.
Suci sekali parasmu.
Di sini kau jauh di puncak.
Kau dingin, aku takut.
Tapi kau indah, aku suka.
Kau juga lembut, aku rindu.
Sebentar lagi kau datang.
Bukan di sini, tapi di sebelah.
Ingin sekali manari di sekitarmu.
Ingin sekali memeluk hawamu.
Mustahil jika aku di sini.
Ya benar sekali, pergi.
Bergegas jika aku bisa.
Tunggu, apa aku bisa?
Untuk Selamanya
Karya : Mutia Diska
Dimana? Jangan jauh.
Dekatlah, tak ingin berlalu.
Diamlah dan jangan pergi.
Secepat surga memisahkan.
Hadirlah di embun pagi.
Datanglah di rintik hujan.
Akan menunggu selalu.
Takkan pergi sejejak pun.
Tenanglah, tidak berbohong.
Yakinlah dan percaya.
Jika hati takkan mampu jauh.
Jiwa masih di sini selamanya.
Dimana? Jangan jauh.
Dekatlah, tak ingin berlalu.
Diamlah dan jangan pergi.
Secepat surga memisahkan.
Hadirlah di embun pagi.
Datanglah di rintik hujan.
Akan menunggu selalu.
Takkan pergi sejejak pun.
Tenanglah, tidak berbohong.
Yakinlah dan percaya.
Jika hati takkan mampu jauh.
Jiwa masih di sini selamanya.
Sabtu, 02 November 2013
Bagaimana Bisa Percaya?
Karya : Mutia Diska
Setetes, tapi membisukan.
Jarang aku bertemu.
Karena lumpuh.
Tidak pernah berfikir.
Kau pisau.
Sekali-kali datang.
Sayatmu kejam.
Sesuka hatimu.
Sifatmu halus.
Tapi kadang membekas.
Mungkin karena mengizinkan.
Selepas isi otakmu saja.
Derai yang ada.
Kau tikam terlalu dalam.
Sudahi sandiwaramu.
Tenanglah tapi tidak di sini.
Senang di sana.
Kau tau, tapi kau lakukan.
Kejam, kecewa yang ada.
Terlalu naif untuk berdusta.
Setetes, tapi membisukan.
Jarang aku bertemu.
Karena lumpuh.
Tidak pernah berfikir.
Kau pisau.
Sekali-kali datang.
Sayatmu kejam.
Sesuka hatimu.
Sifatmu halus.
Tapi kadang membekas.
Mungkin karena mengizinkan.
Selepas isi otakmu saja.
Derai yang ada.
Kau tikam terlalu dalam.
Sudahi sandiwaramu.
Tenanglah tapi tidak di sini.
Senang di sana.
Kau tau, tapi kau lakukan.
Kejam, kecewa yang ada.
Terlalu naif untuk berdusta.
Berhentilah
Karya : Mutia Diska
Senyum, dulu kau undang datang.
Pilu, dulu kau usir perlahan.
Tawa, dulu kau bawa pulang.
Perih, dulu kau buang jauh.
Tapi tangis kau seret perlahan.
Air mata kau luapkan deras.
Tak pernah berfikir itu sakit.
Tak pernah berfikir itu luka.
Sadis cara yang kau tikam.
Membuat kelumpuhan di otak.
Ucapmu mengiris remuk.
Tidak seperti kelembutan yang dulu.
Berbeda, dan aku tidak percaya.
Senyum, dulu kau undang datang.
Pilu, dulu kau usir perlahan.
Tawa, dulu kau bawa pulang.
Perih, dulu kau buang jauh.
Tapi tangis kau seret perlahan.
Air mata kau luapkan deras.
Tak pernah berfikir itu sakit.
Tak pernah berfikir itu luka.
Sadis cara yang kau tikam.
Membuat kelumpuhan di otak.
Ucapmu mengiris remuk.
Tidak seperti kelembutan yang dulu.
Berbeda, dan aku tidak percaya.
Jumat, 01 November 2013
Dari Duha Untuk Tahajud.
Karya : Mutia Diska
Selamat pagi fajar beserta indahmu.
Malam yang telah kau lalui tertutup.
Seharusnya kau membuka jendela buana.
Ketika jarum jam subuhmu masih berdetik.
Selamat siang awan putih.
Pagi yang berlalu pun tertutup.
Seharusnya kau kunci lemari cakrawala.
Ketika doa duhamu belum jua selesai.
Selamat sore langit merah.
Siang yang berlalu mulai tertutup rapat.
Seharusnya kau berlari untuk asarmu.
Ketika langit mulai remang-remang.
Selamat malam bintang yang setia.
Senjamu menutup diri terlalu rapat.
Seharusnya kau tak merangkak lagi.
Ketika tahajudmu telah menanti.
Selamat pagi fajar beserta indahmu.
Malam yang telah kau lalui tertutup.
Seharusnya kau membuka jendela buana.
Ketika jarum jam subuhmu masih berdetik.
Selamat siang awan putih.
Pagi yang berlalu pun tertutup.
Seharusnya kau kunci lemari cakrawala.
Ketika doa duhamu belum jua selesai.
Selamat sore langit merah.
Siang yang berlalu mulai tertutup rapat.
Seharusnya kau berlari untuk asarmu.
Ketika langit mulai remang-remang.
Selamat malam bintang yang setia.
Senjamu menutup diri terlalu rapat.
Seharusnya kau tak merangkak lagi.
Ketika tahajudmu telah menanti.
Kamis, 31 Oktober 2013
Bekas Kekaguman
Karya : Mutia Diska
Kukagumi dari sudut kediamanmu.
Kusalutkan dari tepi kelembutanmu.
Jernih fikiranmu setapak kutelusuri.
Bening ucapmu sejengkal kuselami.
Meremukkan asa dalam rasa.
Kerlip matamu jadi cahaya malamku.
Nada bisikanmu jadi melodi tidurku.
Bahu hatimu jadi sandaran mimpiku.
Sebatas antara dahan dan ranting.
Tergeming tatapan setiamu.
Pelukan sendu dari raga tak bertuan.
Penghujung temu antara kabut dan embun.
Kukagumi dari sudut kediamanmu.
Kusalutkan dari tepi kelembutanmu.
Jernih fikiranmu setapak kutelusuri.
Bening ucapmu sejengkal kuselami.
Meremukkan asa dalam rasa.
Kerlip matamu jadi cahaya malamku.
Nada bisikanmu jadi melodi tidurku.
Bahu hatimu jadi sandaran mimpiku.
Sebatas antara dahan dan ranting.
Tergeming tatapan setiamu.
Pelukan sendu dari raga tak bertuan.
Penghujung temu antara kabut dan embun.
Minggu, 27 Oktober 2013
Mungkinkah Tinggal
Karya : Mutia Diska
Menjejaki perkenalan sebatas lalu.
Secepat angin menerawang fajar.
Terpisah alasan yang bungkam.
Tertinggal diam di sudut akhir pertemuan.
Tanpa mengucap petitih asa dan rasa.
Hanya cabikan kertas titipan zaman.
Pertanda sore menyembul kepagian.
Takdir tak pernah bisu pada alam.
Bayang-bayang datang bergelimang.
Lewat sayap merpati dari bendungan.
Akhir masa setahun yang buta.
Awal masa setahun yang kacau.
Tapi tidak seperti itu.
Alirannya tenang, memeluk erat.
Derasnya pelan, menggandeng lembut.
Bisiknya damai, membonceng perlahan.
Tatapanya tajam, merangkul pasti.
Beringin tua saksi bisu kabut dan embun.
Semua lepas dari remang-remang lilin.
Semua berhenti ketika hujan tak kunjung henti.
Menjejaki perkenalan sebatas lalu.
Secepat angin menerawang fajar.
Terpisah alasan yang bungkam.
Tertinggal diam di sudut akhir pertemuan.
Tanpa mengucap petitih asa dan rasa.
Hanya cabikan kertas titipan zaman.
Pertanda sore menyembul kepagian.
Takdir tak pernah bisu pada alam.
Bayang-bayang datang bergelimang.
Lewat sayap merpati dari bendungan.
Akhir masa setahun yang buta.
Awal masa setahun yang kacau.
Tapi tidak seperti itu.
Alirannya tenang, memeluk erat.
Derasnya pelan, menggandeng lembut.
Bisiknya damai, membonceng perlahan.
Tatapanya tajam, merangkul pasti.
Beringin tua saksi bisu kabut dan embun.
Semua lepas dari remang-remang lilin.
Semua berhenti ketika hujan tak kunjung henti.
Tetap Untukmu
Karya : Mutia Diska
Cantik, paras indahmu yang tak perlu bersolek.
Indah, lukisan wajahmu yang begitu alami.
Elok, rupamu yang tak pernah palsu.
Rupawan, tekstur alam yang begitu estetika.
Kekayaan muka yang kau punya.
Anugerah terindah semesta alam.
Limpahan warna-warni di matamu.
Karunia setelah pelangi di belakang hujan.
Indah lika-liku bibirmu.
Kasih yang terjaga sepanjang masa.
Semampai tinggi yang kau rasa.
Pemberian mewah sejagad raya.
Kau tetap, dan masih yang terindah.
Kau tak akan tergantikan.
Kau tak pernah sirna.
Untuk selamanya.
Cantik, paras indahmu yang tak perlu bersolek.
Indah, lukisan wajahmu yang begitu alami.
Elok, rupamu yang tak pernah palsu.
Rupawan, tekstur alam yang begitu estetika.
Kekayaan muka yang kau punya.
Anugerah terindah semesta alam.
Limpahan warna-warni di matamu.
Karunia setelah pelangi di belakang hujan.
Indah lika-liku bibirmu.
Kasih yang terjaga sepanjang masa.
Semampai tinggi yang kau rasa.
Pemberian mewah sejagad raya.
Kau tetap, dan masih yang terindah.
Kau tak akan tergantikan.
Kau tak pernah sirna.
Untuk selamanya.
Cukup Tau
Karya : Mutia Diska
Sudah, dan jangan lagi.
Cukup, dan tak perlu lagi.
Hujan telah tertakung di tadahnya.
Bata sudah melebur karena apinya.
Sejak takrim yang kusematkan lenyap.
Sejak tahta yang kupercayakan kelabu.
Selama waktu itu di sini tak bertuan.
Selama waktu itu di sini tak bertepi.
Jelas kau bukan makhluk astral.
Tapi jiwamu halus menghantui.
Kau tipis, sampai putih mata ini buta menatap.
Ketika kau nyata, ilusi dimana-mana.
Harus semanis apa lagi.
Sampai otakmu beku berprasangka.
Harus sejernih apa lagi.
Hingga semua berakhir damai dan tentram.
Harus sebening apa lagi.
Hingga di alam ini aku bisa diam.
Tanpa usikan nakalmu yang selalu singgah.
Tanpa dayang-dayang sewaanmu.
Kapan kau akan percaya.
Jika kebenaran itu langka dimatamu.
Kapan kau akan berhenti.
Jika kasar saja kau tak mengerti.
Sudah, dan jangan lagi.
Cukup, dan tak perlu lagi.
Hujan telah tertakung di tadahnya.
Bata sudah melebur karena apinya.
Sejak takrim yang kusematkan lenyap.
Sejak tahta yang kupercayakan kelabu.
Selama waktu itu di sini tak bertuan.
Selama waktu itu di sini tak bertepi.
Jelas kau bukan makhluk astral.
Tapi jiwamu halus menghantui.
Kau tipis, sampai putih mata ini buta menatap.
Ketika kau nyata, ilusi dimana-mana.
Harus semanis apa lagi.
Sampai otakmu beku berprasangka.
Harus sejernih apa lagi.
Hingga semua berakhir damai dan tentram.
Harus sebening apa lagi.
Hingga di alam ini aku bisa diam.
Tanpa usikan nakalmu yang selalu singgah.
Tanpa dayang-dayang sewaanmu.
Kapan kau akan percaya.
Jika kebenaran itu langka dimatamu.
Kapan kau akan berhenti.
Jika kasar saja kau tak mengerti.
Jumat, 25 Oktober 2013
Lihat Sisi Lainku
Tak pernah terlintas dibenak itu.
Sedikit saja goresan yang menyakitkan.
Itu dulu, bagaimana dengan kini ?
Selalu saja kenistaan yang singgah.
Pernahkah terlintas olehmu?
Pernahkah terfikir olehmu?
Pernahkah aku seperti itu?
Seburuk itu kah aku ?
Aku di sini masih berfikir.
Aku di sini tidak untuk berburuk sangka.
Aku di sini masih termenung.
Aku di sini agar semua baik-baik saja.
Kau pergi.
Karena kau juru kunci.
Kau pulang.
Karena alasan kau masih juru kunci.
Tapi tolong, jangan semau hati.
Lihat sayap-sayapku yang lumpuh.
Jangan lihat jemariku yang kokoh.
Tolong, dan tolong mengerti.
Sedikit saja goresan yang menyakitkan.
Itu dulu, bagaimana dengan kini ?
Selalu saja kenistaan yang singgah.
Pernahkah terlintas olehmu?
Pernahkah terfikir olehmu?
Pernahkah aku seperti itu?
Seburuk itu kah aku ?
Aku di sini masih berfikir.
Aku di sini tidak untuk berburuk sangka.
Aku di sini masih termenung.
Aku di sini agar semua baik-baik saja.
Kau pergi.
Karena kau juru kunci.
Kau pulang.
Karena alasan kau masih juru kunci.
Tapi tolong, jangan semau hati.
Lihat sayap-sayapku yang lumpuh.
Jangan lihat jemariku yang kokoh.
Tolong, dan tolong mengerti.
Alam Penyatu
Karya : Mutia Diska
Cinta, sejernih yang kau punya.
Kasih, secerah cahaya yang ku lihat.
Sayang, segumpal karsa yang tersimpan.
Rindu, seberkas rasa yang kita jaga.
Ketika bisu jadi dirimu.
Biar tuli yang aku teguk.
Jika buta yang kau selami.
Biar lumpuh yang aku peluk.
Sekiranya ada rasa saling melengkapi.
Untaian sapa yang kau hembus.
Untaian doa yang ku ucap.
Seberkas duha yang kau deru.
Seberkas tahajud yang kubisikan.
Ketika terik menusukmu.
Biar kesejukanku yang mendinginkan.
Ketika dingin mengekangmu.
Biar kehangatanku yang menjauhkan.
Cinta, sejernih yang kau punya.
Kasih, secerah cahaya yang ku lihat.
Sayang, segumpal karsa yang tersimpan.
Rindu, seberkas rasa yang kita jaga.
Ketika bisu jadi dirimu.
Biar tuli yang aku teguk.
Jika buta yang kau selami.
Biar lumpuh yang aku peluk.
Sekiranya ada rasa saling melengkapi.
Untaian sapa yang kau hembus.
Untaian doa yang ku ucap.
Seberkas duha yang kau deru.
Seberkas tahajud yang kubisikan.
Ketika terik menusukmu.
Biar kesejukanku yang mendinginkan.
Ketika dingin mengekangmu.
Biar kehangatanku yang menjauhkan.
Kamis, 24 Oktober 2013
Ambigu.
Debar, gugup bergetar.
Tenang, nyaman terasa.
Butir-butir benih seakan subur.
Hamparan yang senyap dan bisikan lembut.
Dikala jemari berjanji.
Bila saja kini masih di sini.
Bila saja dulu tak bertemu.
Bila nanti tak lagi di sana.
Biar embun menjadi saksi.
Biar bintang yang menyimpan.
Biar rintik hujan yang bergeming.
Dibalik janji kebohongan.
Dibalik dusta kejujuran.
Tenang, nyaman terasa.
Butir-butir benih seakan subur.
Hamparan yang senyap dan bisikan lembut.
Dikala jemari berjanji.
Bila saja kini masih di sini.
Bila saja dulu tak bertemu.
Bila nanti tak lagi di sana.
Biar embun menjadi saksi.
Biar bintang yang menyimpan.
Biar rintik hujan yang bergeming.
Dibalik janji kebohongan.
Dibalik dusta kejujuran.
Menunggu pagi
Lembab, pengap dan aku terjerat.
Sesak, terdekap kegelapan.
Dingin, menggigil dan aku lumpuh.
Sesak, terpeluk kedinginan.
Letih, penat dan aku tertatih.
Sesak, tertusuk kesakitan.
Entah bagaimana, aku tak mengerti.
Entah kenapa, aku dibingungkan.
Genggaman tangan yang kini luka.
Jemari yang kini kaku.
Tangan yang tak lagi bernadi.
Kaki yang tak lagi berarteri
Seakan melayang diantariksa terluar.
Seakan malam selalu abadi.
Seakan pagi tak kan kunjung kembali.
Sesak, terdekap kegelapan.
Dingin, menggigil dan aku lumpuh.
Sesak, terpeluk kedinginan.
Letih, penat dan aku tertatih.
Sesak, tertusuk kesakitan.
Entah bagaimana, aku tak mengerti.
Entah kenapa, aku dibingungkan.
Genggaman tangan yang kini luka.
Jemari yang kini kaku.
Tangan yang tak lagi bernadi.
Kaki yang tak lagi berarteri
Seakan melayang diantariksa terluar.
Seakan malam selalu abadi.
Seakan pagi tak kan kunjung kembali.
Rabu, 23 Oktober 2013
Sekilas Tentang Dia
Dia tak punya, tapi dia berharap.
Dia tak memiliki, tapi dia menginginkan.
Dia tak merasa, tapi dia berhasrat.
Dia tak bertali, tapi dia hendak.
Dia percaya keindahan ada di dalamnya.
Meski dia tau sekarang dia hampa.
Dia yakin keelokkan ada dipenghujungnya.
Meski dia tau sekarang dia pilu.
Dia, dia, selalu dia diam.
Dia, dia, selalu dia bisu.
Meski dia hanya disinggahi pelampiasan.
Dia diselipkan prasangaka.
Dia tenang, dia tidak berombak.
Selalu saja dia terkatung-katung.
Dia inginkan pemberhentian.
Dia butuh penghentian.
Dia tak memiliki, tapi dia menginginkan.
Dia tak merasa, tapi dia berhasrat.
Dia tak bertali, tapi dia hendak.
Dia percaya keindahan ada di dalamnya.
Meski dia tau sekarang dia hampa.
Dia yakin keelokkan ada dipenghujungnya.
Meski dia tau sekarang dia pilu.
Dia, dia, selalu dia diam.
Dia, dia, selalu dia bisu.
Meski dia hanya disinggahi pelampiasan.
Dia diselipkan prasangaka.
Dia tenang, dia tidak berombak.
Selalu saja dia terkatung-katung.
Dia inginkan pemberhentian.
Dia butuh penghentian.
Tabu
Karya : Mutia Diska
Bunga itu kini telah layu.
Ketika kumbang tak lagi datang.
Dedaunan itu kini telah gugur.
Ketika air tak mampu memberikan oksigen.
Kayu itu kini telah lapuk.
Ketika rayap menggeroti batangnya.
Karang itu kini sudah retak.
Ketika ombak selalu menghempas.
Rindu itu kini telah berlalu.
Ketika jiwa mulai membara.
Hasrat itu kini telah beku.
Ketika api unggun itu padam.
Raga itu kini telah lumpuh.
Ketika petir itu datang menerpa.
Mata itu kini telah buta.
Ketika kabut asap membuaramkan pandangan.
Bibir itu kini telah membisu.
Ketika lidah terlipat tiba-tiba.
Peti itu kini telah terkunci.
Ketika induknya hilang ditengan jalan.
Bunga itu kini telah layu.
Ketika kumbang tak lagi datang.
Dedaunan itu kini telah gugur.
Ketika air tak mampu memberikan oksigen.
Kayu itu kini telah lapuk.
Ketika rayap menggeroti batangnya.
Karang itu kini sudah retak.
Ketika ombak selalu menghempas.
Rindu itu kini telah berlalu.
Ketika jiwa mulai membara.
Hasrat itu kini telah beku.
Ketika api unggun itu padam.
Raga itu kini telah lumpuh.
Ketika petir itu datang menerpa.
Mata itu kini telah buta.
Ketika kabut asap membuaramkan pandangan.
Bibir itu kini telah membisu.
Ketika lidah terlipat tiba-tiba.
Peti itu kini telah terkunci.
Ketika induknya hilang ditengan jalan.
Selasa, 22 Oktober 2013
Sekawan
Karya : Mutia Diska
Berawal dari keganjilan yang menjadi genap.
Kelipatan dua yang sering didamba.
Berawal dari 3 tahun silam.
Lembaran kertas yang menyatukan.
Berawal dari ketidaktahuan.
Mengenal bahkan jadi alasan.
Ego bahkan mempersatukan.
Tangis dan tawa yang mengindahkan.
Kadang kala.
Ada saja hal aneh yang bisa terjadi.
Mengudang bahak tawa yang menggila.
Semilir persahabatan di batas kota.
Memori untuk masa tua.
Sejarah bagi insan yang akan tinggal.
Sulit untuk dilukisakan.
Momen gengsi yang ketinggian.
Menahan kerinduan yang berkicau.
Jauh di mata dekat di hati.
Pengobat rasa cemas kehilangan.
Berawal dari keganjilan yang menjadi genap.
Kelipatan dua yang sering didamba.
Berawal dari 3 tahun silam.
Lembaran kertas yang menyatukan.
Berawal dari ketidaktahuan.
Mengenal bahkan jadi alasan.
Ego bahkan mempersatukan.
Tangis dan tawa yang mengindahkan.
Kadang kala.
Ada saja hal aneh yang bisa terjadi.
Mengudang bahak tawa yang menggila.
Semilir persahabatan di batas kota.
Memori untuk masa tua.
Sejarah bagi insan yang akan tinggal.
Sulit untuk dilukisakan.
Momen gengsi yang ketinggian.
Menahan kerinduan yang berkicau.
Jauh di mata dekat di hati.
Pengobat rasa cemas kehilangan.
Bukan Sinting
Oleng terombang ambing.
Compang-comping tujuh keliling.
Bau busuk sekeliling.
Menguliti keripik kering.
Warna badan yang sudah bening.
Hahaha, tertawa berguling-guling.
Huhuhu, menangis berkeping-keping.
Menari-nari di atas beling.
Bertengger di bawah ranting.
Orang bilang itu sinting.
Orang bilang itu miring.
Jangkrik mulai berdenging.
Lebah mulai bergeming.
Sampai mata itu mulai terpicing
Compang-comping tujuh keliling.
Bau busuk sekeliling.
Menguliti keripik kering.
Warna badan yang sudah bening.
Hahaha, tertawa berguling-guling.
Huhuhu, menangis berkeping-keping.
Menari-nari di atas beling.
Bertengger di bawah ranting.
Orang bilang itu sinting.
Orang bilang itu miring.
Jangkrik mulai berdenging.
Lebah mulai bergeming.
Sampai mata itu mulai terpicing
Karam
Langkahmu setapak dahulu.
Langkahku setapak dibelakang.
Umurmu sejenjang di atas.
Umurku sejenjang di bawah
Ilmumu sejengkal lebih panjanng.
Ilmuku sejengkal lebih pendek.
Mengikutlah kesombonganmu.
Ketika aku mulai bertanya.
Tidak denganmu yang dulu.
Ramahmu sulit dipersalahkan.
Santunmu sulit ditaklukan.
Seakan kau makhluk sempurna.
Rayuan malaikat menggulingkanmu.
Semua hancur tanpa sisa.
Sedetik kau guncang dunia.
Dengan jiwamu yang tak sama.
Membelai dunia hanya dengan dusta.
Langkahku setapak dibelakang.
Umurmu sejenjang di atas.
Umurku sejenjang di bawah
Ilmumu sejengkal lebih panjanng.
Ilmuku sejengkal lebih pendek.
Mengikutlah kesombonganmu.
Ketika aku mulai bertanya.
Tidak denganmu yang dulu.
Ramahmu sulit dipersalahkan.
Santunmu sulit ditaklukan.
Seakan kau makhluk sempurna.
Rayuan malaikat menggulingkanmu.
Semua hancur tanpa sisa.
Sedetik kau guncang dunia.
Dengan jiwamu yang tak sama.
Membelai dunia hanya dengan dusta.
Detik Keheningan
Karya : Mutia Diska
Embun malammu.
Dekap mendekap.
Merangkul kelumpuhan ini.
Menggenggam kepolosan diri.
Bergandengan di kegelapan.
Memeluk ketidakpantasan.
Merangkak memutari pelita.
Selaksa cinta yang berbekas.
Sanubari yang selalu bisu.
Sendiri dalam kegundahan.
Menggigit jemari keirian.
Menggerogoti kehalusan tubuh.
Imajinasi kasih sayang dan ketulusan.
Di irama nyanyian yang tak kunjung usai.
Embun malammu.
Dekap mendekap.
Merangkul kelumpuhan ini.
Menggenggam kepolosan diri.
Bergandengan di kegelapan.
Memeluk ketidakpantasan.
Merangkak memutari pelita.
Selaksa cinta yang berbekas.
Sanubari yang selalu bisu.
Sendiri dalam kegundahan.
Menggigit jemari keirian.
Menggerogoti kehalusan tubuh.
Imajinasi kasih sayang dan ketulusan.
Di irama nyanyian yang tak kunjung usai.
Senin, 21 Oktober 2013
Menanti
Karya : Mutia Diska
Hening, hampa dan bisu.
Mulut itu seakan digembok .
Mencit-mencit kecil mencicit kasar.
Menggerogoti bekas keju-keju tetanggga.
Pipit saja takut saling berhamburan.
Kancing baju minus tiga ingin berkacamata.
Burung hantu tengah malam menjerit.
Terlintas bayangan kasar tengah malam.
Tiiitt, tiiitt, samar terdengar diujung sana.
Enam puluh menit yang kurang.
Tak jarang kata maaf sering berbisik.
Terkikih mulut itu ketika air mata jatuh tiba-tiba.
Ahh benci, kadang kala ingin berlari.
Tapi luka sembilu masih menancap.
Sembab, lembab udara malam.
Memborgol kebebasan kebenaran bicara.
Sudahlah, jujur itu masih dipuncak eifel.
Dalih berdalih drama itu belum jua berakhir.
Dear Jiji Davis.
Hening, hampa dan bisu.
Mulut itu seakan digembok .
Mencit-mencit kecil mencicit kasar.
Menggerogoti bekas keju-keju tetanggga.
Pipit saja takut saling berhamburan.
Kancing baju minus tiga ingin berkacamata.
Burung hantu tengah malam menjerit.
Terlintas bayangan kasar tengah malam.
Tiiitt, tiiitt, samar terdengar diujung sana.
Enam puluh menit yang kurang.
Tak jarang kata maaf sering berbisik.
Terkikih mulut itu ketika air mata jatuh tiba-tiba.
Ahh benci, kadang kala ingin berlari.
Tapi luka sembilu masih menancap.
Sembab, lembab udara malam.
Memborgol kebebasan kebenaran bicara.
Sudahlah, jujur itu masih dipuncak eifel.
Dalih berdalih drama itu belum jua berakhir.
Dear Jiji Davis.
Puisi Penutup Tidur
Karya : Mutia Diska
Dikala rembulan egois menerangi malam.
Dikala rembulan egois menerangi malam.
Namun bintang-bintang tak pernah murka.
Aku berdiri bukan namun bersimpuh duduk.
Memandang cahaya lampu teras dibalik tirai ruang tamu.
Entah ini anugerah entah ini mukjizat.
Erat sekali pelukan itu ditubuh ini.
Seperti memintaku untuk tidak beranjak pergi.
Embun yang melekat hanya menjadi umpanku untuk setia
memandang.
Nyanyian nenekku indah dikala umurku masih 2 tahun.
Ketika abadinya menyapa qalbuku yang sangat
kunantikan.
Malam yang begitu suram untuk tidak aku suratkan
di secarcik kertas ini.
Mataku mungkin salah mendengar cerita itu.
Tak seperti telingaku yang akurat memandang.
Kata-kata indah dari tanganmu yang sejuk.
Seiring genggaman mulutmu yang menenangkan.
Kadang kala merdu suaramu mengajakku melangkahkan
kaki.
Mengajakku ke alam abadi hatimu yang gundah.
Tak berguna kadang ingin ku campakkan.
Namun di sana aku baru saja menoreh darah abadi.
Bagiku tak salah jika memang harus begitu.
Yang penting sujudku indah di sajadah baru ini.
Dan setidaknya lilin dan sumbunya mampu setia
menemani.
Sesaat sebelum semua berubah menjadi alam yang
serba ajaib.
Alam barzah
Minggu, 20 Oktober 2013
Teman Masa Sebelas
Karya : Mutia Diska
Rindu..
Jika mimpi menyelinap di imajinasi malam hari.
Ketika bayang-bayangmu jauh tak terlihat.
Dulu..
Udara malam sering kita peluk berdua.
Di jalanan kota kita tertawa bersama.
Kadang hujan sering menari dengan kita.
Indah..
Tak pernah beranjak dari pikrianku.
Parasmu yang cantik laksana bidadari.
Sayang..
Dunia seakan meretakkan kita.
Membagi menjadi dua kutub.
Kau utara dan aku selatan.
Jingga..
Apa ini hanya terbesit dalam pikiranku saja.
Apa masih ada harap kecemasanmu.
Untuk sejenak mengulang cerita itu.
Rindu..
Jika mimpi menyelinap di imajinasi malam hari.
Ketika bayang-bayangmu jauh tak terlihat.
Dulu..
Udara malam sering kita peluk berdua.
Di jalanan kota kita tertawa bersama.
Kadang hujan sering menari dengan kita.
Indah..
Tak pernah beranjak dari pikrianku.
Parasmu yang cantik laksana bidadari.
Sayang..
Dunia seakan meretakkan kita.
Membagi menjadi dua kutub.
Kau utara dan aku selatan.
Jingga..
Apa ini hanya terbesit dalam pikiranku saja.
Apa masih ada harap kecemasanmu.
Untuk sejenak mengulang cerita itu.
Sepiku itu Kau
Karya : Mutia Diska
Wajah samar di dalam benak.
Wajah samar di dalam benak.
Indahnya senyum tampak di hati.
Kau beri pinta dan hilang semua.
Cinta agung dari hati nan suci.
Katanya indah di pelupuk.
Katanya hampa di keriangan.
Itulah anehnya kau.
Beri aku harapan indah.
Sepiku itu kau.
Ramainya tanpaku.
Merah darah tak terkalahkan.
Putih tulang harapanmu.
Terima kasih tanpa pamrih.
Temani dan temani.
Sampai akhir zaman.
Janji dari bibir jauh.
Seberkas Adha
Karya : Mutia Diska
Kicau-kicau dzikir yang berbisik
Mengalun berayun damai
Jauh memandang beribu jarak
Aku tak tau kenapa iya
Dari kecil tersudut setiap detik takbir
Gandengan yang merindu sirna
Sejauh kaki berlari luka tertumpu batu
Anak mungil tak pernah bisu
Berceloteh tanpa tau pada siapa seharusnya
Idul adha ke 17, masih tak terdekap
Jika saja arwah halusmu masih ada
Tak ada sela sela risau menghantui jejak ini
Kicau-kicau dzikir yang berbisik
Mengalun berayun damai
Jauh memandang beribu jarak
Aku tak tau kenapa iya
Dari kecil tersudut setiap detik takbir
Gandengan yang merindu sirna
Sejauh kaki berlari luka tertumpu batu
Anak mungil tak pernah bisu
Berceloteh tanpa tau pada siapa seharusnya
Idul adha ke 17, masih tak terdekap
Jika saja arwah halusmu masih ada
Tak ada sela sela risau menghantui jejak ini
Logika
Karya : Mutia Diska
Kenapa angka satu?
Aku ingin cotan 0.
Aku juga ingin log tan cos sin 90.
Apa mengerti? mungkin ragu.
Kenapa angka satu?
Mungkin saja satu angka untukku.
Semua serba satu?
Mungkin, tapi rasanya tidak.
Apa akan berubah dua?
Itu salah karena gagal.
Kembali ke angka berikutnya?
Ragu, salah menunggu (lagi)
Jadi berapa?
Harus satu? Ya.
Dua, tiga, empat itu untukmu bukan? aku?
Demikian angka satu, apa mungkin?
Tidak, Pernah bimbang ? Sudah lama!
Kenapa angka satu?
Aku ingin cotan 0.
Aku juga ingin log tan cos sin 90.
Apa mengerti? mungkin ragu.
Kenapa angka satu?
Mungkin saja satu angka untukku.
Semua serba satu?
Mungkin, tapi rasanya tidak.
Apa akan berubah dua?
Itu salah karena gagal.
Kembali ke angka berikutnya?
Ragu, salah menunggu (lagi)
Jadi berapa?
Harus satu? Ya.
Dua, tiga, empat itu untukmu bukan? aku?
Demikian angka satu, apa mungkin?
Tidak, Pernah bimbang ? Sudah lama!
Sabtu, 19 Oktober 2013
Enam Melodi
Karya : Mutia Diska
Ketika jemari berkata untuk menggenggam
Ketika sanubari terhempas dalam pelukan
Tepat diangka yang sudah ditentukan
Ketika melodi mengiringi ucapan itu
Ketika hujan tiba-tiba berlari
Seketika gempa menerjang lembut
Menusuk dengan kasih sayang
Membunuh logika yang menggila
Ketika berani berkata lain
Sayup-sayup paras dibalik embun samar terlihat
Merpati yang tiba-tiba hinggap dibalik gerbang itu
Sulit terlihat anggunnya jiwa itu
Seakan menarik raga menari dilantai dansa
Sepasang bola mata tepat dihadapan
Gagu membisu mulut untuk berucap
Sampai-sampai sayap itu tiba-tiba patah
Ketika bara api menghanguskan kutub positif hati
Seperti porak poranda tapi sangat indah
Melayang terbang kelangit ketujuh
Tepat dienam sembilan dari tiga belas
Putih abu-abu.
ILUSI
Robekan-robekan pertistiwa yang menyongsong tak kan pernah berubah lagi ketika nestapa singgah dikehidupan yang tak pernah pasti, kadang kala sayatan-sayatan luka yang tersisa itu ditetesi asam penawar luka, kepingan-kepingan bata merah yang sempat berubah menjadi merah jambu kadang membuatnya tak terasa, padahal sudah tau jika kemustahilan itu semakin nyata ketika tidak adanya kesadaran yang semula dinginkan, usaha yang ada seperti terlihat hambar dalam sedetik saja, dalamnya galian yang membuatnya lumpuh, mematikan fungsi otak untuk berfikir bijaksana, melupakan selipan-selipan kecil, ibarat pelampung dilautan dangkal.
Pengorbanan tak butuh berleha-leha,tak butuh
bersantai, pengorbanan butuh kedalam hati untuk menerima meski ada air mata,
berjuang meski ada kerikil kecil yang menghadang. Ini bukan berat, tapi ini
rumit dan mungkin sedikit sulit. Berbesar hatilah untuk tidak egois pada
keadaan, banyak persimpangan yang harus dilalui sebelum melihat indahnya
anugerah di ufuk senja, setidaknya hembusan nafas yang tersisa akan menjadi
cerita pendek yang mengisahkan lika-liku perjalanan singkat masa muda yang
pernah ada.
Langganan:
Komentar (Atom)