Robekan-robekan pertistiwa yang menyongsong tak kan pernah berubah lagi ketika nestapa singgah dikehidupan yang tak pernah pasti, kadang kala sayatan-sayatan luka yang tersisa itu ditetesi asam penawar luka, kepingan-kepingan bata merah yang sempat berubah menjadi merah jambu kadang membuatnya tak terasa, padahal sudah tau jika kemustahilan itu semakin nyata ketika tidak adanya kesadaran yang semula dinginkan, usaha yang ada seperti terlihat hambar dalam sedetik saja, dalamnya galian yang membuatnya lumpuh, mematikan fungsi otak untuk berfikir bijaksana, melupakan selipan-selipan kecil, ibarat pelampung dilautan dangkal.
Pengorbanan tak butuh berleha-leha,tak butuh
bersantai, pengorbanan butuh kedalam hati untuk menerima meski ada air mata,
berjuang meski ada kerikil kecil yang menghadang. Ini bukan berat, tapi ini
rumit dan mungkin sedikit sulit. Berbesar hatilah untuk tidak egois pada
keadaan, banyak persimpangan yang harus dilalui sebelum melihat indahnya
anugerah di ufuk senja, setidaknya hembusan nafas yang tersisa akan menjadi
cerita pendek yang mengisahkan lika-liku perjalanan singkat masa muda yang
pernah ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar