Senin, 21 Oktober 2013

Menanti

Karya : Mutia Diska
 
Hening, hampa dan bisu. 
Mulut itu seakan digembok .
Mencit-mencit kecil mencicit kasar.
Menggerogoti bekas keju-keju tetanggga.
Pipit saja takut saling berhamburan.
Kancing baju minus tiga ingin berkacamata.
Burung hantu tengah malam menjerit.
Terlintas bayangan kasar tengah malam.
Tiiitt, tiiitt,  samar terdengar diujung sana.
Enam puluh menit yang kurang.
Tak jarang kata maaf sering berbisik.
Terkikih mulut itu ketika air mata jatuh tiba-tiba.
Ahh benci, kadang kala ingin berlari.
Tapi luka sembilu masih menancap.
Sembab, lembab udara malam.
Memborgol kebebasan kebenaran bicara.
Sudahlah, jujur itu masih dipuncak eifel.
Dalih berdalih drama itu belum jua berakhir.

Dear Jiji Davis. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar