Karya : Mutia Diska
Dikala rembulan egois menerangi malam.
Dikala rembulan egois menerangi malam.
Namun bintang-bintang tak pernah murka.
Aku berdiri bukan namun bersimpuh duduk.
Memandang cahaya lampu teras dibalik tirai ruang tamu.
Entah ini anugerah entah ini mukjizat.
Erat sekali pelukan itu ditubuh ini.
Seperti memintaku untuk tidak beranjak pergi.
Embun yang melekat hanya menjadi umpanku untuk setia
memandang.
Nyanyian nenekku indah dikala umurku masih 2 tahun.
Ketika abadinya menyapa qalbuku yang sangat
kunantikan.
Malam yang begitu suram untuk tidak aku suratkan
di secarcik kertas ini.
Mataku mungkin salah mendengar cerita itu.
Tak seperti telingaku yang akurat memandang.
Kata-kata indah dari tanganmu yang sejuk.
Seiring genggaman mulutmu yang menenangkan.
Kadang kala merdu suaramu mengajakku melangkahkan
kaki.
Mengajakku ke alam abadi hatimu yang gundah.
Tak berguna kadang ingin ku campakkan.
Namun di sana aku baru saja menoreh darah abadi.
Bagiku tak salah jika memang harus begitu.
Yang penting sujudku indah di sajadah baru ini.
Dan setidaknya lilin dan sumbunya mampu setia
menemani.
Sesaat sebelum semua berubah menjadi alam yang
serba ajaib.
Alam barzah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar