Senin, 11 November 2013

Secepat Dua Waktu



Aku terlelap ketika matamu masih terbuka.
Jika kau datang aku pasti terjaga.
Karena kau membangunkanku dengan kelembutanmu.
Karena kau ingin aku menemani gelapnya malammu.
Jika hujan datang sering kau peluk aku dengan sendumu.
Karena kau takut, jika aku tak mampu bertahan.
Seandainya mataku tak kunjung terbuka, kau menangis.
Kau takut kesendirian membuatmu lumpuh.
Dan kau tak mampu menjagaku dalam kegelapan.
Dan aku tak mampu membuatmu tak sendiri.
Apa mungkin rembulan akan menyaksikan kita berdua.
Apa mungkin bintang jadi saksi cerita kita.
Cerita cinta ketika fajar menunggu kita.
Andai kita tak bertemu di dinginnya kabut pagi.
Mungkin aku takkan beranjak pergi darimu.
Andai kita bertemu di terangnya mentari.
Mungkin waktu untuk kita tak secepat itu.
Mungkin akan lama aku berdua denganmu.
Menyusuri pekatnya sengatan yang perlahan menusukku.
Menyusuri sisi lain dunia diantara kita, diantara kau dan aku

Dear Jiji Davis

Minggu, 10 November 2013

Hidupku Di Gelapmu

Matahari kini tlah meredup.
Kau datang tanpa kuundang.
Rembulan, ya engkau rembulan.
Tapi indahmu tak bisa kuelakkan.
Kadang kau datang bersama temanmu.
Bintang, iya engkau beribu bintang.
Bahkan kawanmu yang lain juga hadir.
Hujan, iya engkau rintik hujan.
Kau memelukku begitu erat.
Hawamu begitu pekat kulihat.
Tapi tetap saja gelap, gelap dan gelap.
Gelap di mataku yang sudah buram.
Tapi kau begitu setia, setia padaku.
Kau tak pernah berdusta, kau jujur.
Rasamu utuh untukku, selamanya.
Engkau juga tau aku selalu mengunjungimu.
Karena itu, kau selalu menungguku.
Dan kita sama-sama menunggu.

Misteri Mawarku

Merahmu menggoda kumbang.
Hijau tangkaimu menipu.
Jika kau patah kau layu.
Jika kau kering kau mati.
Tapi kau menebar harum.
Indahmu mengagumkan.
Kau tak hanya merah.
Tapi kau juga putih.
Kau juga suci dengan warnamu.
Tapi sayang durimu kejam.
Durimu sadis menusuk jemariku.
Tapi kau mampu membuatku tertarik.
Tertarik menelusuri sisi lainmu.
Meski sampai kini belum kutemukan

Denganmu Iramaku

Denting piano kadang kala menenangkan.
Gesekan biola membuatku diam.
Seharusnya aku masih percaya pada gitar.
Meski senarnya menjeratku.
Nada yang kusuka sudah jarang kudengar.
Namun, nada sumbing itu kini muncul lagi.
Engkau,padahal engkau suara merdu yang sejuk.
Dan senandungmu membuatku tegar.
Seriosamu membuatku semakin sayang.
Tak hanya itu, kau punya musikalitas.
Dan musikalisasimu membuatku rindu.
Kau bukan musikus, tapi aku cinta.
Karena alunanmu yang begitu tenang.
Tapi aku harus berlajar musikologi.
Untuk apa? Hanya untuk memahamimu.
Agar musikalitas yang kau punya bisa kumiliki.
Aku bukan musikolog yang mengerti tentangmu.
Tapi kita sering berperan dalam musikal rasa.
Musikal yang kita ciptakan berirama.
Melodi yang juga kita rangkai berdua.
Dengan melodika yang kita beli petang hari.
Sehingga semua melodius kita jadi sejarah.
Sejarah yang akan muncul pada opera sederhana.
Sesederhana rasa yang kita punya.

Sabtu, 09 November 2013

Izinkan Aku

Wajahmu begitu mudah menipu mataku.
Sikapmu kadang kala membuatku mengerti.
Aku, aku yang belum mampu.
Mampu membuatmu bangga.
Aku, aku yang belum bisa.
Bisa membuatmu bahagia.
Aku hanya bisa membuatmu kecewa.
Kecewa akan apa yang terjadi saat ini.
Malam mungkin sering kujadikan tempat mengadu.
Berdiam diri, tertutup pada siapapun.
Kini tak ada yang pernah tau lagi.
Tak satupun yang kuberi tau.
Aku diam, dan aku hanya bisa membisu.
Izinkan aku walau hanya sejenak di sampingmu.
Tapi kapal tempat ku berlayar sudah tenggelam.
Samudera yang kuarungi mengamuk.
Sampan yang tersisa pun sudah lapuk.
Apalagi dayung yang kupunya sudah patah.
Izinkan aku walau hanya sedetik didekatmu.
Mungkin belum saatnya, mungkin nanti.
Izinkan aku untuk sejenak membuatmu bahagia.
Izinkan aku untuk selalu membuatmu bangga.

Senin, 04 November 2013

Belum Saatnya

Detik-detik bermuram.
Sayup-sayup bercerita.
Nada-nada menari.
Jiwa-jiwa terlelap.
Namun hati tak pernah tidur.
Letih takkan pernah lalu.
Maha agung memberi anugerah.
Belum hari ini, mungkin esok.
Di tepian balkon bercerita.
Menulis dengan penuh harap.
Andai saja, tapi tak mungkin lagi.
Arwah telah pergi.
Kini tak mungkin, di sana aku dinanti.
Dengan harap aku akan pulang
Tunggu aku.

Minggu, 03 November 2013

Senandung Untuk Cinta

Cinta, kata orang cinta.
Apa iya cinta?
Cinta itu nama.
Yang bilang cinta.
Jatuh cinta, nanti luka.
Tidak cinta, bukan rasa.
Cinta indah, memang iya.
Dia cinta, aku juga.
Sama, kita sama cinta.
Cinta apa? Rasa cinta.
Kamu cinta? Iya cinta kamu.
Aku cinta? iya cinta kamu juga.
Seberapa cinta? Tidak ternilai.
Yang penting cinta.

Andaikan Salju

Kapan kau ke sini.
Berabad-abad pun belum.
Suci sekali parasmu.
Di sini kau jauh di puncak.
Kau dingin, aku takut.
Tapi kau indah, aku suka.
Kau juga lembut, aku rindu.
Sebentar lagi kau datang.
Bukan di sini, tapi di sebelah.
Ingin sekali manari di sekitarmu.
Ingin sekali memeluk hawamu.
Mustahil jika aku di sini.
Ya benar sekali, pergi.
Bergegas jika aku bisa.
Tunggu, apa aku bisa?

Untuk Selamanya

Karya : Mutia Diska

Dimana? Jangan jauh.
Dekatlah, tak ingin berlalu.
Diamlah dan jangan pergi.
Secepat surga memisahkan.
Hadirlah di embun pagi.
Datanglah di rintik hujan.
Akan menunggu selalu.
Takkan pergi sejejak pun.
Tenanglah, tidak berbohong.
Yakinlah dan percaya.
Jika hati takkan mampu jauh.
Jiwa masih di sini selamanya. 

Sabtu, 02 November 2013

Bagaimana Bisa Percaya?

Karya : Mutia Diska

Setetes, tapi membisukan.
Jarang aku bertemu.
Karena lumpuh.
Tidak pernah berfikir.
Kau pisau.
Sekali-kali datang.
Sayatmu kejam.
Sesuka hatimu.
Sifatmu halus.
Tapi kadang membekas.
Mungkin karena mengizinkan.
Selepas isi otakmu saja.
Derai yang ada.
Kau tikam terlalu dalam.
Sudahi sandiwaramu.
Tenanglah tapi tidak di sini.
Senang di sana.
Kau tau, tapi kau lakukan.
Kejam, kecewa yang ada.
Terlalu naif untuk berdusta.

Berhentilah

Karya : Mutia Diska

Senyum, dulu kau undang datang.
Pilu, dulu kau usir perlahan.
Tawa, dulu kau bawa pulang.
Perih, dulu kau buang jauh.
Tapi tangis kau seret perlahan.
Air mata kau luapkan deras.
Tak pernah berfikir itu sakit.
Tak pernah berfikir itu luka.
Sadis cara yang kau tikam.
Membuat kelumpuhan di otak.
Ucapmu mengiris remuk.
Tidak seperti kelembutan yang dulu.
Berbeda, dan aku tidak percaya.

Jumat, 01 November 2013

Dari Duha Untuk Tahajud.

Karya : Mutia Diska

Selamat pagi fajar beserta indahmu.
Malam yang telah kau lalui tertutup.
Seharusnya kau membuka jendela buana.
Ketika jarum jam subuhmu masih berdetik.
Selamat siang awan putih.
Pagi yang berlalu pun tertutup.
Seharusnya kau kunci lemari cakrawala.
Ketika doa duhamu belum jua selesai.
Selamat sore langit merah.
Siang yang berlalu mulai tertutup rapat.
Seharusnya kau berlari untuk asarmu.
Ketika langit mulai remang-remang.
Selamat malam bintang yang setia.
Senjamu menutup diri terlalu rapat.
Seharusnya kau tak merangkak lagi.
Ketika tahajudmu telah menanti.