Karya : Mutia Diska
Kukagumi dari sudut kediamanmu.
Kusalutkan dari tepi kelembutanmu.
Jernih fikiranmu setapak kutelusuri.
Bening ucapmu sejengkal kuselami.
Meremukkan asa dalam rasa.
Kerlip matamu jadi cahaya malamku.
Nada bisikanmu jadi melodi tidurku.
Bahu hatimu jadi sandaran mimpiku.
Sebatas antara dahan dan ranting.
Tergeming tatapan setiamu.
Pelukan sendu dari raga tak bertuan.
Penghujung temu antara kabut dan embun.
Kamis, 31 Oktober 2013
Minggu, 27 Oktober 2013
Mungkinkah Tinggal
Karya : Mutia Diska
Menjejaki perkenalan sebatas lalu.
Secepat angin menerawang fajar.
Terpisah alasan yang bungkam.
Tertinggal diam di sudut akhir pertemuan.
Tanpa mengucap petitih asa dan rasa.
Hanya cabikan kertas titipan zaman.
Pertanda sore menyembul kepagian.
Takdir tak pernah bisu pada alam.
Bayang-bayang datang bergelimang.
Lewat sayap merpati dari bendungan.
Akhir masa setahun yang buta.
Awal masa setahun yang kacau.
Tapi tidak seperti itu.
Alirannya tenang, memeluk erat.
Derasnya pelan, menggandeng lembut.
Bisiknya damai, membonceng perlahan.
Tatapanya tajam, merangkul pasti.
Beringin tua saksi bisu kabut dan embun.
Semua lepas dari remang-remang lilin.
Semua berhenti ketika hujan tak kunjung henti.
Menjejaki perkenalan sebatas lalu.
Secepat angin menerawang fajar.
Terpisah alasan yang bungkam.
Tertinggal diam di sudut akhir pertemuan.
Tanpa mengucap petitih asa dan rasa.
Hanya cabikan kertas titipan zaman.
Pertanda sore menyembul kepagian.
Takdir tak pernah bisu pada alam.
Bayang-bayang datang bergelimang.
Lewat sayap merpati dari bendungan.
Akhir masa setahun yang buta.
Awal masa setahun yang kacau.
Tapi tidak seperti itu.
Alirannya tenang, memeluk erat.
Derasnya pelan, menggandeng lembut.
Bisiknya damai, membonceng perlahan.
Tatapanya tajam, merangkul pasti.
Beringin tua saksi bisu kabut dan embun.
Semua lepas dari remang-remang lilin.
Semua berhenti ketika hujan tak kunjung henti.
Tetap Untukmu
Karya : Mutia Diska
Cantik, paras indahmu yang tak perlu bersolek.
Indah, lukisan wajahmu yang begitu alami.
Elok, rupamu yang tak pernah palsu.
Rupawan, tekstur alam yang begitu estetika.
Kekayaan muka yang kau punya.
Anugerah terindah semesta alam.
Limpahan warna-warni di matamu.
Karunia setelah pelangi di belakang hujan.
Indah lika-liku bibirmu.
Kasih yang terjaga sepanjang masa.
Semampai tinggi yang kau rasa.
Pemberian mewah sejagad raya.
Kau tetap, dan masih yang terindah.
Kau tak akan tergantikan.
Kau tak pernah sirna.
Untuk selamanya.
Cantik, paras indahmu yang tak perlu bersolek.
Indah, lukisan wajahmu yang begitu alami.
Elok, rupamu yang tak pernah palsu.
Rupawan, tekstur alam yang begitu estetika.
Kekayaan muka yang kau punya.
Anugerah terindah semesta alam.
Limpahan warna-warni di matamu.
Karunia setelah pelangi di belakang hujan.
Indah lika-liku bibirmu.
Kasih yang terjaga sepanjang masa.
Semampai tinggi yang kau rasa.
Pemberian mewah sejagad raya.
Kau tetap, dan masih yang terindah.
Kau tak akan tergantikan.
Kau tak pernah sirna.
Untuk selamanya.
Cukup Tau
Karya : Mutia Diska
Sudah, dan jangan lagi.
Cukup, dan tak perlu lagi.
Hujan telah tertakung di tadahnya.
Bata sudah melebur karena apinya.
Sejak takrim yang kusematkan lenyap.
Sejak tahta yang kupercayakan kelabu.
Selama waktu itu di sini tak bertuan.
Selama waktu itu di sini tak bertepi.
Jelas kau bukan makhluk astral.
Tapi jiwamu halus menghantui.
Kau tipis, sampai putih mata ini buta menatap.
Ketika kau nyata, ilusi dimana-mana.
Harus semanis apa lagi.
Sampai otakmu beku berprasangka.
Harus sejernih apa lagi.
Hingga semua berakhir damai dan tentram.
Harus sebening apa lagi.
Hingga di alam ini aku bisa diam.
Tanpa usikan nakalmu yang selalu singgah.
Tanpa dayang-dayang sewaanmu.
Kapan kau akan percaya.
Jika kebenaran itu langka dimatamu.
Kapan kau akan berhenti.
Jika kasar saja kau tak mengerti.
Sudah, dan jangan lagi.
Cukup, dan tak perlu lagi.
Hujan telah tertakung di tadahnya.
Bata sudah melebur karena apinya.
Sejak takrim yang kusematkan lenyap.
Sejak tahta yang kupercayakan kelabu.
Selama waktu itu di sini tak bertuan.
Selama waktu itu di sini tak bertepi.
Jelas kau bukan makhluk astral.
Tapi jiwamu halus menghantui.
Kau tipis, sampai putih mata ini buta menatap.
Ketika kau nyata, ilusi dimana-mana.
Harus semanis apa lagi.
Sampai otakmu beku berprasangka.
Harus sejernih apa lagi.
Hingga semua berakhir damai dan tentram.
Harus sebening apa lagi.
Hingga di alam ini aku bisa diam.
Tanpa usikan nakalmu yang selalu singgah.
Tanpa dayang-dayang sewaanmu.
Kapan kau akan percaya.
Jika kebenaran itu langka dimatamu.
Kapan kau akan berhenti.
Jika kasar saja kau tak mengerti.
Jumat, 25 Oktober 2013
Lihat Sisi Lainku
Tak pernah terlintas dibenak itu.
Sedikit saja goresan yang menyakitkan.
Itu dulu, bagaimana dengan kini ?
Selalu saja kenistaan yang singgah.
Pernahkah terlintas olehmu?
Pernahkah terfikir olehmu?
Pernahkah aku seperti itu?
Seburuk itu kah aku ?
Aku di sini masih berfikir.
Aku di sini tidak untuk berburuk sangka.
Aku di sini masih termenung.
Aku di sini agar semua baik-baik saja.
Kau pergi.
Karena kau juru kunci.
Kau pulang.
Karena alasan kau masih juru kunci.
Tapi tolong, jangan semau hati.
Lihat sayap-sayapku yang lumpuh.
Jangan lihat jemariku yang kokoh.
Tolong, dan tolong mengerti.
Sedikit saja goresan yang menyakitkan.
Itu dulu, bagaimana dengan kini ?
Selalu saja kenistaan yang singgah.
Pernahkah terlintas olehmu?
Pernahkah terfikir olehmu?
Pernahkah aku seperti itu?
Seburuk itu kah aku ?
Aku di sini masih berfikir.
Aku di sini tidak untuk berburuk sangka.
Aku di sini masih termenung.
Aku di sini agar semua baik-baik saja.
Kau pergi.
Karena kau juru kunci.
Kau pulang.
Karena alasan kau masih juru kunci.
Tapi tolong, jangan semau hati.
Lihat sayap-sayapku yang lumpuh.
Jangan lihat jemariku yang kokoh.
Tolong, dan tolong mengerti.
Alam Penyatu
Karya : Mutia Diska
Cinta, sejernih yang kau punya.
Kasih, secerah cahaya yang ku lihat.
Sayang, segumpal karsa yang tersimpan.
Rindu, seberkas rasa yang kita jaga.
Ketika bisu jadi dirimu.
Biar tuli yang aku teguk.
Jika buta yang kau selami.
Biar lumpuh yang aku peluk.
Sekiranya ada rasa saling melengkapi.
Untaian sapa yang kau hembus.
Untaian doa yang ku ucap.
Seberkas duha yang kau deru.
Seberkas tahajud yang kubisikan.
Ketika terik menusukmu.
Biar kesejukanku yang mendinginkan.
Ketika dingin mengekangmu.
Biar kehangatanku yang menjauhkan.
Cinta, sejernih yang kau punya.
Kasih, secerah cahaya yang ku lihat.
Sayang, segumpal karsa yang tersimpan.
Rindu, seberkas rasa yang kita jaga.
Ketika bisu jadi dirimu.
Biar tuli yang aku teguk.
Jika buta yang kau selami.
Biar lumpuh yang aku peluk.
Sekiranya ada rasa saling melengkapi.
Untaian sapa yang kau hembus.
Untaian doa yang ku ucap.
Seberkas duha yang kau deru.
Seberkas tahajud yang kubisikan.
Ketika terik menusukmu.
Biar kesejukanku yang mendinginkan.
Ketika dingin mengekangmu.
Biar kehangatanku yang menjauhkan.
Kamis, 24 Oktober 2013
Ambigu.
Debar, gugup bergetar.
Tenang, nyaman terasa.
Butir-butir benih seakan subur.
Hamparan yang senyap dan bisikan lembut.
Dikala jemari berjanji.
Bila saja kini masih di sini.
Bila saja dulu tak bertemu.
Bila nanti tak lagi di sana.
Biar embun menjadi saksi.
Biar bintang yang menyimpan.
Biar rintik hujan yang bergeming.
Dibalik janji kebohongan.
Dibalik dusta kejujuran.
Tenang, nyaman terasa.
Butir-butir benih seakan subur.
Hamparan yang senyap dan bisikan lembut.
Dikala jemari berjanji.
Bila saja kini masih di sini.
Bila saja dulu tak bertemu.
Bila nanti tak lagi di sana.
Biar embun menjadi saksi.
Biar bintang yang menyimpan.
Biar rintik hujan yang bergeming.
Dibalik janji kebohongan.
Dibalik dusta kejujuran.
Menunggu pagi
Lembab, pengap dan aku terjerat.
Sesak, terdekap kegelapan.
Dingin, menggigil dan aku lumpuh.
Sesak, terpeluk kedinginan.
Letih, penat dan aku tertatih.
Sesak, tertusuk kesakitan.
Entah bagaimana, aku tak mengerti.
Entah kenapa, aku dibingungkan.
Genggaman tangan yang kini luka.
Jemari yang kini kaku.
Tangan yang tak lagi bernadi.
Kaki yang tak lagi berarteri
Seakan melayang diantariksa terluar.
Seakan malam selalu abadi.
Seakan pagi tak kan kunjung kembali.
Sesak, terdekap kegelapan.
Dingin, menggigil dan aku lumpuh.
Sesak, terpeluk kedinginan.
Letih, penat dan aku tertatih.
Sesak, tertusuk kesakitan.
Entah bagaimana, aku tak mengerti.
Entah kenapa, aku dibingungkan.
Genggaman tangan yang kini luka.
Jemari yang kini kaku.
Tangan yang tak lagi bernadi.
Kaki yang tak lagi berarteri
Seakan melayang diantariksa terluar.
Seakan malam selalu abadi.
Seakan pagi tak kan kunjung kembali.
Rabu, 23 Oktober 2013
Sekilas Tentang Dia
Dia tak punya, tapi dia berharap.
Dia tak memiliki, tapi dia menginginkan.
Dia tak merasa, tapi dia berhasrat.
Dia tak bertali, tapi dia hendak.
Dia percaya keindahan ada di dalamnya.
Meski dia tau sekarang dia hampa.
Dia yakin keelokkan ada dipenghujungnya.
Meski dia tau sekarang dia pilu.
Dia, dia, selalu dia diam.
Dia, dia, selalu dia bisu.
Meski dia hanya disinggahi pelampiasan.
Dia diselipkan prasangaka.
Dia tenang, dia tidak berombak.
Selalu saja dia terkatung-katung.
Dia inginkan pemberhentian.
Dia butuh penghentian.
Dia tak memiliki, tapi dia menginginkan.
Dia tak merasa, tapi dia berhasrat.
Dia tak bertali, tapi dia hendak.
Dia percaya keindahan ada di dalamnya.
Meski dia tau sekarang dia hampa.
Dia yakin keelokkan ada dipenghujungnya.
Meski dia tau sekarang dia pilu.
Dia, dia, selalu dia diam.
Dia, dia, selalu dia bisu.
Meski dia hanya disinggahi pelampiasan.
Dia diselipkan prasangaka.
Dia tenang, dia tidak berombak.
Selalu saja dia terkatung-katung.
Dia inginkan pemberhentian.
Dia butuh penghentian.
Tabu
Karya : Mutia Diska
Bunga itu kini telah layu.
Ketika kumbang tak lagi datang.
Dedaunan itu kini telah gugur.
Ketika air tak mampu memberikan oksigen.
Kayu itu kini telah lapuk.
Ketika rayap menggeroti batangnya.
Karang itu kini sudah retak.
Ketika ombak selalu menghempas.
Rindu itu kini telah berlalu.
Ketika jiwa mulai membara.
Hasrat itu kini telah beku.
Ketika api unggun itu padam.
Raga itu kini telah lumpuh.
Ketika petir itu datang menerpa.
Mata itu kini telah buta.
Ketika kabut asap membuaramkan pandangan.
Bibir itu kini telah membisu.
Ketika lidah terlipat tiba-tiba.
Peti itu kini telah terkunci.
Ketika induknya hilang ditengan jalan.
Bunga itu kini telah layu.
Ketika kumbang tak lagi datang.
Dedaunan itu kini telah gugur.
Ketika air tak mampu memberikan oksigen.
Kayu itu kini telah lapuk.
Ketika rayap menggeroti batangnya.
Karang itu kini sudah retak.
Ketika ombak selalu menghempas.
Rindu itu kini telah berlalu.
Ketika jiwa mulai membara.
Hasrat itu kini telah beku.
Ketika api unggun itu padam.
Raga itu kini telah lumpuh.
Ketika petir itu datang menerpa.
Mata itu kini telah buta.
Ketika kabut asap membuaramkan pandangan.
Bibir itu kini telah membisu.
Ketika lidah terlipat tiba-tiba.
Peti itu kini telah terkunci.
Ketika induknya hilang ditengan jalan.
Selasa, 22 Oktober 2013
Sekawan
Karya : Mutia Diska
Berawal dari keganjilan yang menjadi genap.
Kelipatan dua yang sering didamba.
Berawal dari 3 tahun silam.
Lembaran kertas yang menyatukan.
Berawal dari ketidaktahuan.
Mengenal bahkan jadi alasan.
Ego bahkan mempersatukan.
Tangis dan tawa yang mengindahkan.
Kadang kala.
Ada saja hal aneh yang bisa terjadi.
Mengudang bahak tawa yang menggila.
Semilir persahabatan di batas kota.
Memori untuk masa tua.
Sejarah bagi insan yang akan tinggal.
Sulit untuk dilukisakan.
Momen gengsi yang ketinggian.
Menahan kerinduan yang berkicau.
Jauh di mata dekat di hati.
Pengobat rasa cemas kehilangan.
Berawal dari keganjilan yang menjadi genap.
Kelipatan dua yang sering didamba.
Berawal dari 3 tahun silam.
Lembaran kertas yang menyatukan.
Berawal dari ketidaktahuan.
Mengenal bahkan jadi alasan.
Ego bahkan mempersatukan.
Tangis dan tawa yang mengindahkan.
Kadang kala.
Ada saja hal aneh yang bisa terjadi.
Mengudang bahak tawa yang menggila.
Semilir persahabatan di batas kota.
Memori untuk masa tua.
Sejarah bagi insan yang akan tinggal.
Sulit untuk dilukisakan.
Momen gengsi yang ketinggian.
Menahan kerinduan yang berkicau.
Jauh di mata dekat di hati.
Pengobat rasa cemas kehilangan.
Bukan Sinting
Oleng terombang ambing.
Compang-comping tujuh keliling.
Bau busuk sekeliling.
Menguliti keripik kering.
Warna badan yang sudah bening.
Hahaha, tertawa berguling-guling.
Huhuhu, menangis berkeping-keping.
Menari-nari di atas beling.
Bertengger di bawah ranting.
Orang bilang itu sinting.
Orang bilang itu miring.
Jangkrik mulai berdenging.
Lebah mulai bergeming.
Sampai mata itu mulai terpicing
Compang-comping tujuh keliling.
Bau busuk sekeliling.
Menguliti keripik kering.
Warna badan yang sudah bening.
Hahaha, tertawa berguling-guling.
Huhuhu, menangis berkeping-keping.
Menari-nari di atas beling.
Bertengger di bawah ranting.
Orang bilang itu sinting.
Orang bilang itu miring.
Jangkrik mulai berdenging.
Lebah mulai bergeming.
Sampai mata itu mulai terpicing
Karam
Langkahmu setapak dahulu.
Langkahku setapak dibelakang.
Umurmu sejenjang di atas.
Umurku sejenjang di bawah
Ilmumu sejengkal lebih panjanng.
Ilmuku sejengkal lebih pendek.
Mengikutlah kesombonganmu.
Ketika aku mulai bertanya.
Tidak denganmu yang dulu.
Ramahmu sulit dipersalahkan.
Santunmu sulit ditaklukan.
Seakan kau makhluk sempurna.
Rayuan malaikat menggulingkanmu.
Semua hancur tanpa sisa.
Sedetik kau guncang dunia.
Dengan jiwamu yang tak sama.
Membelai dunia hanya dengan dusta.
Langkahku setapak dibelakang.
Umurmu sejenjang di atas.
Umurku sejenjang di bawah
Ilmumu sejengkal lebih panjanng.
Ilmuku sejengkal lebih pendek.
Mengikutlah kesombonganmu.
Ketika aku mulai bertanya.
Tidak denganmu yang dulu.
Ramahmu sulit dipersalahkan.
Santunmu sulit ditaklukan.
Seakan kau makhluk sempurna.
Rayuan malaikat menggulingkanmu.
Semua hancur tanpa sisa.
Sedetik kau guncang dunia.
Dengan jiwamu yang tak sama.
Membelai dunia hanya dengan dusta.
Detik Keheningan
Karya : Mutia Diska
Embun malammu.
Dekap mendekap.
Merangkul kelumpuhan ini.
Menggenggam kepolosan diri.
Bergandengan di kegelapan.
Memeluk ketidakpantasan.
Merangkak memutari pelita.
Selaksa cinta yang berbekas.
Sanubari yang selalu bisu.
Sendiri dalam kegundahan.
Menggigit jemari keirian.
Menggerogoti kehalusan tubuh.
Imajinasi kasih sayang dan ketulusan.
Di irama nyanyian yang tak kunjung usai.
Embun malammu.
Dekap mendekap.
Merangkul kelumpuhan ini.
Menggenggam kepolosan diri.
Bergandengan di kegelapan.
Memeluk ketidakpantasan.
Merangkak memutari pelita.
Selaksa cinta yang berbekas.
Sanubari yang selalu bisu.
Sendiri dalam kegundahan.
Menggigit jemari keirian.
Menggerogoti kehalusan tubuh.
Imajinasi kasih sayang dan ketulusan.
Di irama nyanyian yang tak kunjung usai.
Senin, 21 Oktober 2013
Menanti
Karya : Mutia Diska
Hening, hampa dan bisu.
Mulut itu seakan digembok .
Mencit-mencit kecil mencicit kasar.
Menggerogoti bekas keju-keju tetanggga.
Pipit saja takut saling berhamburan.
Kancing baju minus tiga ingin berkacamata.
Burung hantu tengah malam menjerit.
Terlintas bayangan kasar tengah malam.
Tiiitt, tiiitt, samar terdengar diujung sana.
Enam puluh menit yang kurang.
Tak jarang kata maaf sering berbisik.
Terkikih mulut itu ketika air mata jatuh tiba-tiba.
Ahh benci, kadang kala ingin berlari.
Tapi luka sembilu masih menancap.
Sembab, lembab udara malam.
Memborgol kebebasan kebenaran bicara.
Sudahlah, jujur itu masih dipuncak eifel.
Dalih berdalih drama itu belum jua berakhir.
Dear Jiji Davis.
Hening, hampa dan bisu.
Mulut itu seakan digembok .
Mencit-mencit kecil mencicit kasar.
Menggerogoti bekas keju-keju tetanggga.
Pipit saja takut saling berhamburan.
Kancing baju minus tiga ingin berkacamata.
Burung hantu tengah malam menjerit.
Terlintas bayangan kasar tengah malam.
Tiiitt, tiiitt, samar terdengar diujung sana.
Enam puluh menit yang kurang.
Tak jarang kata maaf sering berbisik.
Terkikih mulut itu ketika air mata jatuh tiba-tiba.
Ahh benci, kadang kala ingin berlari.
Tapi luka sembilu masih menancap.
Sembab, lembab udara malam.
Memborgol kebebasan kebenaran bicara.
Sudahlah, jujur itu masih dipuncak eifel.
Dalih berdalih drama itu belum jua berakhir.
Dear Jiji Davis.
Puisi Penutup Tidur
Karya : Mutia Diska
Dikala rembulan egois menerangi malam.
Dikala rembulan egois menerangi malam.
Namun bintang-bintang tak pernah murka.
Aku berdiri bukan namun bersimpuh duduk.
Memandang cahaya lampu teras dibalik tirai ruang tamu.
Entah ini anugerah entah ini mukjizat.
Erat sekali pelukan itu ditubuh ini.
Seperti memintaku untuk tidak beranjak pergi.
Embun yang melekat hanya menjadi umpanku untuk setia
memandang.
Nyanyian nenekku indah dikala umurku masih 2 tahun.
Ketika abadinya menyapa qalbuku yang sangat
kunantikan.
Malam yang begitu suram untuk tidak aku suratkan
di secarcik kertas ini.
Mataku mungkin salah mendengar cerita itu.
Tak seperti telingaku yang akurat memandang.
Kata-kata indah dari tanganmu yang sejuk.
Seiring genggaman mulutmu yang menenangkan.
Kadang kala merdu suaramu mengajakku melangkahkan
kaki.
Mengajakku ke alam abadi hatimu yang gundah.
Tak berguna kadang ingin ku campakkan.
Namun di sana aku baru saja menoreh darah abadi.
Bagiku tak salah jika memang harus begitu.
Yang penting sujudku indah di sajadah baru ini.
Dan setidaknya lilin dan sumbunya mampu setia
menemani.
Sesaat sebelum semua berubah menjadi alam yang
serba ajaib.
Alam barzah
Minggu, 20 Oktober 2013
Teman Masa Sebelas
Karya : Mutia Diska
Rindu..
Jika mimpi menyelinap di imajinasi malam hari.
Ketika bayang-bayangmu jauh tak terlihat.
Dulu..
Udara malam sering kita peluk berdua.
Di jalanan kota kita tertawa bersama.
Kadang hujan sering menari dengan kita.
Indah..
Tak pernah beranjak dari pikrianku.
Parasmu yang cantik laksana bidadari.
Sayang..
Dunia seakan meretakkan kita.
Membagi menjadi dua kutub.
Kau utara dan aku selatan.
Jingga..
Apa ini hanya terbesit dalam pikiranku saja.
Apa masih ada harap kecemasanmu.
Untuk sejenak mengulang cerita itu.
Rindu..
Jika mimpi menyelinap di imajinasi malam hari.
Ketika bayang-bayangmu jauh tak terlihat.
Dulu..
Udara malam sering kita peluk berdua.
Di jalanan kota kita tertawa bersama.
Kadang hujan sering menari dengan kita.
Indah..
Tak pernah beranjak dari pikrianku.
Parasmu yang cantik laksana bidadari.
Sayang..
Dunia seakan meretakkan kita.
Membagi menjadi dua kutub.
Kau utara dan aku selatan.
Jingga..
Apa ini hanya terbesit dalam pikiranku saja.
Apa masih ada harap kecemasanmu.
Untuk sejenak mengulang cerita itu.
Sepiku itu Kau
Karya : Mutia Diska
Wajah samar di dalam benak.
Wajah samar di dalam benak.
Indahnya senyum tampak di hati.
Kau beri pinta dan hilang semua.
Cinta agung dari hati nan suci.
Katanya indah di pelupuk.
Katanya hampa di keriangan.
Itulah anehnya kau.
Beri aku harapan indah.
Sepiku itu kau.
Ramainya tanpaku.
Merah darah tak terkalahkan.
Putih tulang harapanmu.
Terima kasih tanpa pamrih.
Temani dan temani.
Sampai akhir zaman.
Janji dari bibir jauh.
Seberkas Adha
Karya : Mutia Diska
Kicau-kicau dzikir yang berbisik
Mengalun berayun damai
Jauh memandang beribu jarak
Aku tak tau kenapa iya
Dari kecil tersudut setiap detik takbir
Gandengan yang merindu sirna
Sejauh kaki berlari luka tertumpu batu
Anak mungil tak pernah bisu
Berceloteh tanpa tau pada siapa seharusnya
Idul adha ke 17, masih tak terdekap
Jika saja arwah halusmu masih ada
Tak ada sela sela risau menghantui jejak ini
Kicau-kicau dzikir yang berbisik
Mengalun berayun damai
Jauh memandang beribu jarak
Aku tak tau kenapa iya
Dari kecil tersudut setiap detik takbir
Gandengan yang merindu sirna
Sejauh kaki berlari luka tertumpu batu
Anak mungil tak pernah bisu
Berceloteh tanpa tau pada siapa seharusnya
Idul adha ke 17, masih tak terdekap
Jika saja arwah halusmu masih ada
Tak ada sela sela risau menghantui jejak ini
Logika
Karya : Mutia Diska
Kenapa angka satu?
Aku ingin cotan 0.
Aku juga ingin log tan cos sin 90.
Apa mengerti? mungkin ragu.
Kenapa angka satu?
Mungkin saja satu angka untukku.
Semua serba satu?
Mungkin, tapi rasanya tidak.
Apa akan berubah dua?
Itu salah karena gagal.
Kembali ke angka berikutnya?
Ragu, salah menunggu (lagi)
Jadi berapa?
Harus satu? Ya.
Dua, tiga, empat itu untukmu bukan? aku?
Demikian angka satu, apa mungkin?
Tidak, Pernah bimbang ? Sudah lama!
Kenapa angka satu?
Aku ingin cotan 0.
Aku juga ingin log tan cos sin 90.
Apa mengerti? mungkin ragu.
Kenapa angka satu?
Mungkin saja satu angka untukku.
Semua serba satu?
Mungkin, tapi rasanya tidak.
Apa akan berubah dua?
Itu salah karena gagal.
Kembali ke angka berikutnya?
Ragu, salah menunggu (lagi)
Jadi berapa?
Harus satu? Ya.
Dua, tiga, empat itu untukmu bukan? aku?
Demikian angka satu, apa mungkin?
Tidak, Pernah bimbang ? Sudah lama!
Sabtu, 19 Oktober 2013
Enam Melodi
Karya : Mutia Diska
Ketika jemari berkata untuk menggenggam
Ketika sanubari terhempas dalam pelukan
Tepat diangka yang sudah ditentukan
Ketika melodi mengiringi ucapan itu
Ketika hujan tiba-tiba berlari
Seketika gempa menerjang lembut
Menusuk dengan kasih sayang
Membunuh logika yang menggila
Ketika berani berkata lain
Sayup-sayup paras dibalik embun samar terlihat
Merpati yang tiba-tiba hinggap dibalik gerbang itu
Sulit terlihat anggunnya jiwa itu
Seakan menarik raga menari dilantai dansa
Sepasang bola mata tepat dihadapan
Gagu membisu mulut untuk berucap
Sampai-sampai sayap itu tiba-tiba patah
Ketika bara api menghanguskan kutub positif hati
Seperti porak poranda tapi sangat indah
Melayang terbang kelangit ketujuh
Tepat dienam sembilan dari tiga belas
Putih abu-abu.
ILUSI
Robekan-robekan pertistiwa yang menyongsong tak kan pernah berubah lagi ketika nestapa singgah dikehidupan yang tak pernah pasti, kadang kala sayatan-sayatan luka yang tersisa itu ditetesi asam penawar luka, kepingan-kepingan bata merah yang sempat berubah menjadi merah jambu kadang membuatnya tak terasa, padahal sudah tau jika kemustahilan itu semakin nyata ketika tidak adanya kesadaran yang semula dinginkan, usaha yang ada seperti terlihat hambar dalam sedetik saja, dalamnya galian yang membuatnya lumpuh, mematikan fungsi otak untuk berfikir bijaksana, melupakan selipan-selipan kecil, ibarat pelampung dilautan dangkal.
Pengorbanan tak butuh berleha-leha,tak butuh
bersantai, pengorbanan butuh kedalam hati untuk menerima meski ada air mata,
berjuang meski ada kerikil kecil yang menghadang. Ini bukan berat, tapi ini
rumit dan mungkin sedikit sulit. Berbesar hatilah untuk tidak egois pada
keadaan, banyak persimpangan yang harus dilalui sebelum melihat indahnya
anugerah di ufuk senja, setidaknya hembusan nafas yang tersisa akan menjadi
cerita pendek yang mengisahkan lika-liku perjalanan singkat masa muda yang
pernah ada.
Langganan:
Komentar (Atom)