Jangan katakan apa-apa lagi .
Diam dan heninglah dalam kebisuan.
Simpan semua yang kini ada.
Biarkan berlalu begitu saja.
Jika terlalu bodoh untuk diam.
Cukup pintarlah untuk berusaha.
Jika terlalu polos untuk menyadari.
Cukup bijaksanalah dalam menerima.
Biar tetap berbeda keinginan.
Cukup terima dan biarkan saja.
Selama ada yang tau sebenarnya.
Jika berdiri untuk lumpuh.
Biarlah terlelap untuk bangun.
Jika berlari untuk terjatuh.
Biarlah berbaring untuk bangkit.
Asalkan jangan menyerah jika mampu.
Diska's
Everything's gonna be OK :)
Sabtu, 28 Desember 2013
Sejenis Tetes Hujan.
Terasa dalam angan.
Jalan panjang dalam rintikmu.
Berdesir, irama pagi.
Beriring dentuman loteng.
Bergema, nada sunyi.
Menanti hadirnya derasmu.
Tadah tangan pengais do'a.
Meski tak tentu waktu.
Diam dalam helai dedaunan.
Tanah memanggilmu pelan.
Seketika sosokmu kelu.
Hilang bahkan lenyap begitu saja.
Akar-akar merenggut nafasmu.
Meski umurmu sepanjang masa.
Berlalu dalam desir pasir.
Hening ketika tetesmu behenti.
Jalan panjang dalam rintikmu.
Berdesir, irama pagi.
Beriring dentuman loteng.
Bergema, nada sunyi.
Menanti hadirnya derasmu.
Tadah tangan pengais do'a.
Meski tak tentu waktu.
Diam dalam helai dedaunan.
Tanah memanggilmu pelan.
Seketika sosokmu kelu.
Hilang bahkan lenyap begitu saja.
Akar-akar merenggut nafasmu.
Meski umurmu sepanjang masa.
Berlalu dalam desir pasir.
Hening ketika tetesmu behenti.
Minggu, 08 Desember 2013
Laksana Kelabu.
Bayang-bayang jalanan tak lagi ada.
Hanya pantulan lampu kendaraan.
Atau seberkas sinar datang rahasia.
Tersisa sedikit peluh bercucuran.
Belum jua berakhir untuk bergerak.
Masih tersisa waktu untuk berlaku.
Tapi tak sanggup dalam derai hujan.
Hanya sanggup dalam derai badai.
Engku ibarat perantara yang astral.
Tak pernah jelas, bahkan tak tampak.
Seruanmu menakjubkan, selalu begitu.
Hanya beberapa menit untuk diam.
Dan sebentar lagi berlalu sendu.
Harus menanti hidup lagi untuk berjumpa.
Begitulah jalan cerita detik-detikmu.
Ambigu untuk yang tak tau.
Hanya pantulan lampu kendaraan.
Atau seberkas sinar datang rahasia.
Tersisa sedikit peluh bercucuran.
Belum jua berakhir untuk bergerak.
Masih tersisa waktu untuk berlaku.
Tapi tak sanggup dalam derai hujan.
Hanya sanggup dalam derai badai.
Engku ibarat perantara yang astral.
Tak pernah jelas, bahkan tak tampak.
Seruanmu menakjubkan, selalu begitu.
Hanya beberapa menit untuk diam.
Dan sebentar lagi berlalu sendu.
Harus menanti hidup lagi untuk berjumpa.
Begitulah jalan cerita detik-detikmu.
Ambigu untuk yang tak tau.
Sabtu, 07 Desember 2013
Tentang Sebuah Drama
Musikal sederhana yang berarti.
Sebuah nyanyian yang berbekas.
Ketika itu pagi menjelang siang
Masih ingat tentang jenjang itu.
Beberapa untai kata bijak terucap.
Memang sederhana, tapi bermakna.
Apa ini terlalu dramatis?
Mungkin tidak untuk yang tau.
Apa ini terlalu rumit?
Mungkin iya bagi yang ingat.
Bukan tempat biasa saja.
Sebiasa sejarah tentang cerita itu.
Menunggu hari itu lagi, tak kan pernah.
Karena drama sederhana itu benar-benar ada.
Sebuah nyanyian yang berbekas.
Ketika itu pagi menjelang siang
Masih ingat tentang jenjang itu.
Beberapa untai kata bijak terucap.
Memang sederhana, tapi bermakna.
Apa ini terlalu dramatis?
Mungkin tidak untuk yang tau.
Apa ini terlalu rumit?
Mungkin iya bagi yang ingat.
Bukan tempat biasa saja.
Sebiasa sejarah tentang cerita itu.
Menunggu hari itu lagi, tak kan pernah.
Karena drama sederhana itu benar-benar ada.
Bukan Itu.
Ini bukan tentang dua waktu.
Ini bukan tentang menanti fajar.
Apalagi tentang menanti terik.
Dan ini sama sekali bukan.
Apa mungkin ini tentang tiga waktu.
Atau pertengahan dari semuanya.
Atau hanya seberkas bayangan kabur.
Bahkan mungkin ini buta, tidak bisa.
Apa tidak pernah jelas.
Apa selalu harus berbayang.
Ini tentang pertanyaan yang rumit.
Mungkin memang sekelumit.
Sehingga itu tidak penting.
Tak kan pernah menjadi penting.
Ini bukan tentang menanti fajar.
Apalagi tentang menanti terik.
Dan ini sama sekali bukan.
Apa mungkin ini tentang tiga waktu.
Atau pertengahan dari semuanya.
Atau hanya seberkas bayangan kabur.
Bahkan mungkin ini buta, tidak bisa.
Apa tidak pernah jelas.
Apa selalu harus berbayang.
Ini tentang pertanyaan yang rumit.
Mungkin memang sekelumit.
Sehingga itu tidak penting.
Tak kan pernah menjadi penting.
Biar Mengalir.
Tentang cerita rembulan malam itu.
Sekilas seperti ada yang mengatur.
Apa itu jalan lain yang kau tunjukkan.
Agar aku bisa sekilas merasakanmu.
Atau tentang bintang yang hilang malam itu.
Iya, aku ingat ketika kita membicarakannya.
Seperti bintang yang akan menimpa bumi.
Hanya kita yang mungkin melihat dengan hati.
Biarlah, jika memang pisau bermata dua.
Tapi tidak denganmu yang diam bertahan.
Atau aku yang berpura-pura tidak tau.
Entah, ini hanya seperti cerita tanpa akhir.
Sekilas seperti ada yang mengatur.
Apa itu jalan lain yang kau tunjukkan.
Agar aku bisa sekilas merasakanmu.
Atau tentang bintang yang hilang malam itu.
Iya, aku ingat ketika kita membicarakannya.
Seperti bintang yang akan menimpa bumi.
Hanya kita yang mungkin melihat dengan hati.
Biarlah, jika memang pisau bermata dua.
Tapi tidak denganmu yang diam bertahan.
Atau aku yang berpura-pura tidak tau.
Entah, ini hanya seperti cerita tanpa akhir.
Jumat, 06 Desember 2013
Percayalah
Langit mungkin bisu.
Tapi tidak dengan hatimu.
Kegelapan mungkin buta.
Tapi tidak dengan matamu.
Kau lebih mampu, kau lebih sanggup.
Tidak seperti saat kau menyerah.
Tidak seperti saat kau menutup mata.
Jika kau lumpuh dalam ingatanmu.
Tongkatmu akan mengingatkan.
Jika bagimu sudah sirna.
Lepaskanlah sejauh mungkin.
Jika kau lupa dalam berfikir.
Kau masih punya memori yang abadi.
Meski tak akan sesempurna yang kau mau.
Tapi lebih indah dari yang pernah terbayangkan.
Tapi tidak dengan hatimu.
Kegelapan mungkin buta.
Tapi tidak dengan matamu.
Kau lebih mampu, kau lebih sanggup.
Tidak seperti saat kau menyerah.
Tidak seperti saat kau menutup mata.
Jika kau lumpuh dalam ingatanmu.
Tongkatmu akan mengingatkan.
Jika bagimu sudah sirna.
Lepaskanlah sejauh mungkin.
Jika kau lupa dalam berfikir.
Kau masih punya memori yang abadi.
Meski tak akan sesempurna yang kau mau.
Tapi lebih indah dari yang pernah terbayangkan.
Senin, 11 November 2013
Secepat Dua Waktu
Aku terlelap ketika matamu masih terbuka.
Jika kau datang aku pasti terjaga.
Karena kau membangunkanku dengan kelembutanmu.
Karena kau ingin aku menemani gelapnya malammu.
Jika hujan datang sering kau peluk aku dengan sendumu.
Karena kau takut, jika aku tak mampu bertahan.
Seandainya mataku tak kunjung terbuka, kau menangis.
Kau takut kesendirian membuatmu lumpuh.
Dan kau tak mampu menjagaku dalam kegelapan.
Dan aku tak mampu membuatmu tak sendiri.
Apa mungkin rembulan akan menyaksikan kita berdua.
Apa mungkin bintang jadi saksi cerita kita.
Cerita cinta ketika fajar menunggu kita.
Andai kita tak bertemu di dinginnya kabut pagi.
Mungkin aku takkan beranjak pergi darimu.
Andai kita bertemu di terangnya mentari.
Mungkin waktu untuk kita tak secepat itu.
Mungkin akan lama aku berdua denganmu.
Menyusuri pekatnya sengatan yang perlahan menusukku.
Menyusuri sisi lain dunia diantara kita, diantara kau
dan aku
Dear Jiji Davis
Minggu, 10 November 2013
Hidupku Di Gelapmu
Matahari kini tlah meredup.
Kau datang tanpa kuundang.
Rembulan, ya engkau rembulan.
Tapi indahmu tak bisa kuelakkan.
Kadang kau datang bersama temanmu.
Bintang, iya engkau beribu bintang.
Bahkan kawanmu yang lain juga hadir.
Hujan, iya engkau rintik hujan.
Kau memelukku begitu erat.
Hawamu begitu pekat kulihat.
Tapi tetap saja gelap, gelap dan gelap.
Gelap di mataku yang sudah buram.
Tapi kau begitu setia, setia padaku.
Kau tak pernah berdusta, kau jujur.
Rasamu utuh untukku, selamanya.
Engkau juga tau aku selalu mengunjungimu.
Karena itu, kau selalu menungguku.
Dan kita sama-sama menunggu.
Kau datang tanpa kuundang.
Rembulan, ya engkau rembulan.
Tapi indahmu tak bisa kuelakkan.
Kadang kau datang bersama temanmu.
Bintang, iya engkau beribu bintang.
Bahkan kawanmu yang lain juga hadir.
Hujan, iya engkau rintik hujan.
Kau memelukku begitu erat.
Hawamu begitu pekat kulihat.
Tapi tetap saja gelap, gelap dan gelap.
Gelap di mataku yang sudah buram.
Tapi kau begitu setia, setia padaku.
Kau tak pernah berdusta, kau jujur.
Rasamu utuh untukku, selamanya.
Engkau juga tau aku selalu mengunjungimu.
Karena itu, kau selalu menungguku.
Dan kita sama-sama menunggu.
Misteri Mawarku
Merahmu menggoda kumbang.
Hijau tangkaimu menipu.
Jika kau patah kau layu.
Jika kau kering kau mati.
Tapi kau menebar harum.
Indahmu mengagumkan.
Kau tak hanya merah.
Tapi kau juga putih.
Kau juga suci dengan warnamu.
Tapi sayang durimu kejam.
Durimu sadis menusuk jemariku.
Tapi kau mampu membuatku tertarik.
Tertarik menelusuri sisi lainmu.
Meski sampai kini belum kutemukan
Hijau tangkaimu menipu.
Jika kau patah kau layu.
Jika kau kering kau mati.
Tapi kau menebar harum.
Indahmu mengagumkan.
Kau tak hanya merah.
Tapi kau juga putih.
Kau juga suci dengan warnamu.
Tapi sayang durimu kejam.
Durimu sadis menusuk jemariku.
Tapi kau mampu membuatku tertarik.
Tertarik menelusuri sisi lainmu.
Meski sampai kini belum kutemukan
Denganmu Iramaku
Denting piano kadang kala menenangkan.
Gesekan biola membuatku diam.
Seharusnya aku masih percaya pada gitar.
Meski senarnya menjeratku.
Nada yang kusuka sudah jarang kudengar.
Namun, nada sumbing itu kini muncul lagi.
Engkau,padahal engkau suara merdu yang sejuk.
Dan senandungmu membuatku tegar.
Seriosamu membuatku semakin sayang.
Tak hanya itu, kau punya musikalitas.
Dan musikalisasimu membuatku rindu.
Kau bukan musikus, tapi aku cinta.
Karena alunanmu yang begitu tenang.
Tapi aku harus berlajar musikologi.
Untuk apa? Hanya untuk memahamimu.
Agar musikalitas yang kau punya bisa kumiliki.
Aku bukan musikolog yang mengerti tentangmu.
Tapi kita sering berperan dalam musikal rasa.
Musikal yang kita ciptakan berirama.
Melodi yang juga kita rangkai berdua.
Dengan melodika yang kita beli petang hari.
Sehingga semua melodius kita jadi sejarah.
Sejarah yang akan muncul pada opera sederhana.
Sesederhana rasa yang kita punya.
Gesekan biola membuatku diam.
Seharusnya aku masih percaya pada gitar.
Meski senarnya menjeratku.
Nada yang kusuka sudah jarang kudengar.
Namun, nada sumbing itu kini muncul lagi.
Engkau,padahal engkau suara merdu yang sejuk.
Dan senandungmu membuatku tegar.
Seriosamu membuatku semakin sayang.
Tak hanya itu, kau punya musikalitas.
Dan musikalisasimu membuatku rindu.
Kau bukan musikus, tapi aku cinta.
Karena alunanmu yang begitu tenang.
Tapi aku harus berlajar musikologi.
Untuk apa? Hanya untuk memahamimu.
Agar musikalitas yang kau punya bisa kumiliki.
Aku bukan musikolog yang mengerti tentangmu.
Tapi kita sering berperan dalam musikal rasa.
Musikal yang kita ciptakan berirama.
Melodi yang juga kita rangkai berdua.
Dengan melodika yang kita beli petang hari.
Sehingga semua melodius kita jadi sejarah.
Sejarah yang akan muncul pada opera sederhana.
Sesederhana rasa yang kita punya.
Sabtu, 09 November 2013
Izinkan Aku
Wajahmu begitu mudah menipu mataku.
Sikapmu kadang kala membuatku mengerti.
Aku, aku yang belum mampu.
Mampu membuatmu bangga.
Aku, aku yang belum bisa.
Bisa membuatmu bahagia.
Aku hanya bisa membuatmu kecewa.
Kecewa akan apa yang terjadi saat ini.
Malam mungkin sering kujadikan tempat mengadu.
Berdiam diri, tertutup pada siapapun.
Kini tak ada yang pernah tau lagi.
Tak satupun yang kuberi tau.
Aku diam, dan aku hanya bisa membisu.
Izinkan aku walau hanya sejenak di sampingmu.
Tapi kapal tempat ku berlayar sudah tenggelam.
Samudera yang kuarungi mengamuk.
Sampan yang tersisa pun sudah lapuk.
Apalagi dayung yang kupunya sudah patah.
Izinkan aku walau hanya sedetik didekatmu.
Mungkin belum saatnya, mungkin nanti.
Izinkan aku untuk sejenak membuatmu bahagia.
Izinkan aku untuk selalu membuatmu bangga.
Sikapmu kadang kala membuatku mengerti.
Aku, aku yang belum mampu.
Mampu membuatmu bangga.
Aku, aku yang belum bisa.
Bisa membuatmu bahagia.
Aku hanya bisa membuatmu kecewa.
Kecewa akan apa yang terjadi saat ini.
Malam mungkin sering kujadikan tempat mengadu.
Berdiam diri, tertutup pada siapapun.
Kini tak ada yang pernah tau lagi.
Tak satupun yang kuberi tau.
Aku diam, dan aku hanya bisa membisu.
Izinkan aku walau hanya sejenak di sampingmu.
Tapi kapal tempat ku berlayar sudah tenggelam.
Samudera yang kuarungi mengamuk.
Sampan yang tersisa pun sudah lapuk.
Apalagi dayung yang kupunya sudah patah.
Izinkan aku walau hanya sedetik didekatmu.
Mungkin belum saatnya, mungkin nanti.
Izinkan aku untuk sejenak membuatmu bahagia.
Izinkan aku untuk selalu membuatmu bangga.
Langganan:
Komentar (Atom)