Karya : Mutia Diska
Tirai kamar itu kubungkam sudah.
Di balik rintik hujan yang menetes dari dedaunan tua.
Tanah gembur tak lagi lunak bahkan encer.
Terpana melihat kupu-kupu yang menari bersama petir.
Meliuk-liuk hentakan bumi yang bermata ini.
Sorak-sorak prajurit perang kini telah pulang.
Memuncakkan amarah di bola mata .
Kongres yang terjadi begitu lama di sana.
Sayangnya hanya diputuskan oleh satu-satunya peserta.
Jika akan ada penundaan di balik kesepian itu.
Penyair itu begitu gila mengundang aromaku.
Namun bumbu-bumbu yang kujadikan terbakar di tungku jiwaku.
Sisanya secangkir air bekas nyanyian semalam.
Nada-nadanya saja masih bergema di sanubari otakku.
Melodinya msih tersisa di sebait lirik terakir.
Yang aku lupa bahwa surat kertas itu sudah lama terbakar.
Debunya pun sudah sampai keawan laraku yang kelabu.
Seakan aku ingat apinya masih tertinggal di tirai terakirku.
Dentuman gemercik api itu seakan terbang mengambang.
Mengepakkan sayap kekeliruan pada kupu-kupu yang hinggap.
Didanau lusuh milik bapak ibu tak bernyawa.
Lemparan batu bak harapan dimasa kecilku.
Melayarkan kapal kelautan tak berombak.
Untuk sejenak menunggu sang surya terbenam.
Untuk menanti indahnya sang rembulan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar