Sepucuk surat bahkan takkan pernah menyatakan kekeliruanmu.
Penjelasanmu hanya seperti bekas-bekas rongsokan gubuk gelandangan.
Mengadu tak pernah ku tau belas kasihan itu apa.
Cemoohan dan hinaan yang kumakan menyebabkanku lapar.
Mengenyangkan bagiku tetesan terakhir dari darah dinistaku.
Lumpuh tertatih saja dipaksa aku berlari dengan kilat.
Terbang jika sayap-sayap benignku telah patah berkelok.
Ramuan penenang saja tercampakkan di tong sampaah tanpa bau itu.
Ibarat salahnya dibalik secangkir nasi yang tak tertelan.
Aku bertanya mungkin aku menjawab salah.
Kesadaran yang misteri dibalik teka -teki sang ilahi.
Salju yang kugenggam membuat fobia di jemariku yang tak takut dingin.
Hujan merubah segala tenangnya jiwa-jiwa alan ini.
Ketika nyanyian yang berlari itu haram di matanya.
Bagiku itu suara yang terindah yang pernah kudengar.
Hijab sang wanita diluar sana membuatku bungkam.
Kadang kala aku berani pergi takut untuk kubawa pulang.
Beratus helai kertas jadi tempat pengabdian tangan lumpuhku.
Bersemarak kulukiskan wajah-wajah disetiap detik ekspresiku.
Namun semua abstrak sampai aku nantikan kalau bekasnya akan jadi temanku.
Aku ingin menjeritkan deretan kesal di benakku.
Kutunggu sampai pelangi tak lagi muncul.
Ketika matahari kini tak terbit dan tenggelam lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar