Selasa, 23 Juli 2013

BEKU

Karya : Mutia Diska

Debur cakrawala menentang kepercayaan.
Dikala semua telah terberikan untuk digenggam.
Tak peduli kini tlah beranjak menepi.
Ombak berlarian mencari bebatuan.
Sakit dibadan yang tak belum terpunahkan.
Melati datang menutupi arwah beningku.
Melodi pergi menentang nada lembut hatiku
Mekar sekar tak lama lagi nyata.
Diseka kumbang yang menusuk sari. 
Mawar busuk layu dijalang pandang.
Durinya tegas menampar kebahagiaan pilu.
Entah ini pergi bukan untuk kembali.
Berbalik hanya ibarat akar dipihak ketiga.
Saat rotan telah remuk dihembus angin.
Angin dari ufuk lubuk hati yg dangkal.
Bersama salju yang mengakhiri tetes hujan..

ILAHI

Karya : Mutia Diska

Sentuhan lembut itu sulit untuk ku dekap.
Lambaian sapaannya kadang sering terlupakan.
Melalaikan hawa kerbersamaan denganmu.
Merindu di setiap malam ketika lilin mulai tumbuh.

Sajak yang selalu indah sulit bagiku untuk tidak menggapainya.
Jika disyairkan begitu sejuk menggema dijiwa.
aku menyayangi lebih dari menyayangi diri sendiri,
Mencintai ketulusanmu pada hatiku yang kau titipkan.
Peluk ragaku ketika aku tau malam begitu hangat,
Meski selimut itu mendinginkan raga.
Hujan yang turun kuasamu atas hidupku.
Besemayam kalbu di antariksa surgamu.
Engkau menanti dengan sejuta sihir .
Yang membuat umatmu kadang tak tau diri.
Membakar sejuta kenangan dosa di saat arwahnya kembali.
Agungmu memberi warna dilangit sanubariku.
Seakan kau mengajakku untuk mendekap surgamu yang syahdu.

Kamis, 18 Juli 2013

SEMU

Karya : Mutia Diska
 
Tirai kamar itu kubungkam sudah.
Di balik rintik hujan yang menetes dari dedaunan tua.
Tanah gembur tak lagi lunak bahkan encer.
Terpana melihat kupu-kupu yang menari bersama petir.
Meliuk-liuk hentakan bumi yang bermata ini.
Sorak-sorak prajurit perang kini telah pulang.
Memuncakkan amarah di bola mata .
Kongres yang terjadi begitu lama di sana. 
Sayangnya hanya diputuskan oleh satu-satunya peserta.
Jika akan ada penundaan di balik kesepian itu.
Penyair itu begitu gila mengundang aromaku.
Namun bumbu-bumbu yang kujadikan terbakar di tungku jiwaku.
Sisanya secangkir air bekas nyanyian semalam.
Nada-nadanya saja masih bergema di sanubari otakku.
Melodinya msih tersisa di sebait lirik terakir.
Yang aku lupa bahwa surat kertas itu sudah lama terbakar.
Debunya pun sudah sampai keawan laraku yang kelabu.
Seakan aku ingat apinya masih tertinggal di tirai terakirku.
Dentuman gemercik api itu seakan terbang mengambang.
Mengepakkan sayap kekeliruan pada kupu-kupu yang hinggap.
Didanau lusuh milik bapak ibu tak bernyawa.
Lemparan batu bak harapan dimasa kecilku.
Melayarkan kapal kelautan tak berombak.
Untuk sejenak menunggu sang surya terbenam.
Untuk menanti indahnya sang rembulan.

Ilustrasi

Lilin yang kian meleleh itu tak seberuntung lampu- lampu taman yang setia dengan gelapnya malam yang menemani keabadian malam dengan benderang, karena ketidaksempurnaan lilin itu dalam menerangi.

Sekilas hanya 3 atau 4 masa saja kalimat yang sama diwaktu yang sama tak pernah terbaca sama lagi untuk saat-saat yang tak sama. dan tak pernah juga untuk terucap beda disaat yang tak beda.


Biarkanlah bekas-bekas garis putih menjadi hakim dan biarkan saja angin menjadi pengacara yang mungkin adil ketika semua yang telah ada menjadi saksi dipengadilan,




Dikala rembulan dan bintang menjadi pembatas antara insan yang bertanah dengan arwah yang sekilas namun suci tiada tara bersemayam dengan sayatan dan hembusan lembaran kertas berisi tinta hitam bergelombang yang didendangkan sayup-sayup dalam hati tak terdengar jangkrik yang berisik disudut tengah malam, itu nikmat berbeda yang bisa terasa, tak banyak yang beruntung untuk sekejab saja mengehela aroma takjubnya kegelapan sempurna bersama sang ilahi.

Seperti benalu yang mungkin mudah saja berkilah pada penopang tubuhnya yang terlihat layu tapi akarnya menerjang dengan begitu sadis.
Tapi tak pernah terkesan seperti lusuhnya teratai yang digigit dengan kejam oleh ikan-ikan yang tau diri untuk tidak menggeroti teratai itu sampai kepucuk.

Detik-detik yang bermakna tapi tidak pernah. keunikan punya pribadi masing-masing sehingga 3 jam itu akan menjadi 180 menit berakhir di 10800 detik pertama semenjak tahun demi tahun menanti.

Terlebih meletekkan ketika sehelai benang terbagi untuk diselipkan sedikit untaian tali.

MOMEN

Karya : Mutia Diska  

Sepucuk surat bahkan takkan pernah menyatakan kekeliruanmu.   
Penjelasanmu hanya seperti bekas-bekas rongsokan gubuk gelandangan.   
Mengadu tak pernah ku tau belas kasihan itu apa.   
Cemoohan dan hinaan yang kumakan menyebabkanku lapar.   
Mengenyangkan bagiku tetesan terakhir dari darah dinistaku.   
Lumpuh tertatih saja dipaksa aku berlari dengan kilat.   
Terbang jika sayap-sayap benignku telah patah berkelok.   
Ramuan penenang saja tercampakkan di tong sampaah tanpa bau itu.  
Ibarat salahnya dibalik secangkir nasi yang tak tertelan.   
Aku bertanya mungkin aku menjawab salah.   
Kesadaran yang misteri dibalik teka -teki sang ilahi.   
Salju yang kugenggam membuat fobia di jemariku yang tak takut dingin.   
Hujan merubah segala tenangnya jiwa-jiwa alan ini.   
Ketika nyanyian yang berlari itu haram di matanya.   
Bagiku itu suara yang terindah yang pernah kudengar.   
Hijab sang wanita diluar sana membuatku bungkam.  
Kadang kala aku berani pergi takut untuk kubawa pulang.   
Beratus helai kertas jadi tempat pengabdian tangan lumpuhku.   
Bersemarak kulukiskan wajah-wajah disetiap detik ekspresiku.  
Namun semua abstrak sampai aku nantikan kalau bekasnya akan jadi temanku.   
Aku ingin menjeritkan deretan kesal di benakku.     
Kutunggu sampai pelangi tak lagi muncul.    
Ketika matahari kini tak terbit dan tenggelam lagi.