Sabtu, 28 Desember 2013

Tetaplah Berjuang

Jangan katakan apa-apa lagi .
Diam dan heninglah dalam kebisuan.
Simpan semua yang kini ada.
Biarkan berlalu begitu saja.
Jika terlalu bodoh untuk diam.
Cukup pintarlah untuk berusaha.
Jika terlalu polos untuk menyadari.
Cukup bijaksanalah dalam menerima.
Biar tetap berbeda keinginan.
Cukup terima dan biarkan saja.
Selama ada yang tau sebenarnya.
Jika berdiri untuk lumpuh.
Biarlah terlelap untuk bangun.
Jika berlari untuk terjatuh.
Biarlah berbaring untuk bangkit.
Asalkan jangan menyerah jika mampu.

Sejenis Tetes Hujan.

Terasa dalam angan.
Jalan panjang dalam rintikmu.
Berdesir, irama pagi.
Beriring dentuman loteng.
Bergema, nada sunyi.
Menanti hadirnya derasmu.
Tadah tangan pengais do'a.
Meski tak tentu waktu.
Diam dalam helai dedaunan.
Tanah memanggilmu pelan.
Seketika sosokmu kelu.
Hilang bahkan lenyap begitu saja.
Akar-akar merenggut nafasmu.
Meski umurmu sepanjang masa.
Berlalu dalam desir pasir.
Hening ketika tetesmu behenti.

Minggu, 08 Desember 2013

Laksana Kelabu.

Bayang-bayang jalanan tak lagi ada.
Hanya pantulan lampu kendaraan.
Atau seberkas sinar datang rahasia.
Tersisa sedikit peluh bercucuran.
Belum jua berakhir untuk bergerak.
Masih tersisa waktu untuk berlaku.
Tapi tak sanggup dalam derai hujan.
Hanya sanggup dalam derai badai.
Engku ibarat perantara yang astral.
Tak pernah jelas, bahkan tak tampak.
Seruanmu menakjubkan, selalu begitu.
Hanya beberapa menit untuk diam.
Dan sebentar lagi berlalu sendu.
Harus menanti hidup lagi untuk berjumpa.
Begitulah jalan cerita detik-detikmu.
Ambigu untuk yang tak tau.

Sabtu, 07 Desember 2013

Tentang Sebuah Drama

Musikal sederhana yang berarti.
Sebuah nyanyian yang berbekas.
Ketika itu pagi menjelang siang
Masih ingat tentang jenjang itu.
Beberapa untai kata bijak terucap.
Memang sederhana, tapi bermakna.
Apa ini terlalu dramatis?
Mungkin tidak untuk yang tau.
Apa ini terlalu rumit?
Mungkin iya bagi yang ingat.
Bukan tempat biasa saja.
Sebiasa sejarah tentang cerita itu.
Menunggu hari itu lagi, tak kan pernah.
Karena drama sederhana itu benar-benar ada.

Bukan Itu.

Ini bukan tentang dua waktu.
Ini bukan tentang menanti fajar.
Apalagi tentang menanti terik.
Dan ini sama sekali bukan.
Apa mungkin ini tentang tiga waktu.
Atau pertengahan dari semuanya.
Atau hanya seberkas bayangan kabur.
Bahkan mungkin ini buta, tidak bisa.
Apa tidak pernah jelas.
Apa selalu harus berbayang.
Ini tentang pertanyaan yang rumit.
Mungkin memang sekelumit.
Sehingga itu tidak penting.
Tak kan pernah menjadi penting.

Biar Mengalir.

Tentang cerita rembulan malam itu.
Sekilas seperti ada yang mengatur.
Apa itu jalan lain yang kau tunjukkan.
Agar aku bisa sekilas merasakanmu.
Atau tentang bintang yang hilang malam itu.
Iya, aku ingat ketika kita membicarakannya.
Seperti bintang yang akan menimpa bumi.
Hanya kita yang mungkin melihat dengan hati.
Biarlah, jika memang pisau bermata dua.
Tapi tidak denganmu yang diam bertahan.
Atau aku yang berpura-pura tidak tau.
Entah, ini hanya seperti cerita tanpa akhir.

Jumat, 06 Desember 2013

Percayalah

Langit mungkin bisu.
Tapi tidak dengan hatimu.
Kegelapan mungkin buta.
Tapi tidak dengan matamu.
Kau lebih mampu, kau lebih sanggup.
Tidak seperti saat kau menyerah.
Tidak seperti saat kau menutup mata.
Jika kau lumpuh dalam ingatanmu.
Tongkatmu akan mengingatkan.
Jika bagimu sudah sirna.
Lepaskanlah sejauh mungkin.
Jika kau lupa dalam berfikir.
Kau masih punya memori yang abadi.
Meski tak akan sesempurna yang kau mau.
Tapi lebih indah dari yang pernah terbayangkan.